Eko Harnanto, Kasi Perlindungan dan Pemulihan Kerusakan Lingkungan DLH Kabupaten Blitar.(Foto : Aunur Rofiq/BlitarTIMES)
Eko Harnanto, Kasi Perlindungan dan Pemulihan Kerusakan Lingkungan DLH Kabupaten Blitar.(Foto : Aunur Rofiq/BlitarTIMES)

Pemerintah Kabupaten Blitar mendapatkan kucuran dana sebesar Rp 15,7 Miliar pada APBD 2018 yang berasal dari Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT).

Dana yang berasal dari pendapatan cukai rokok tersebut salah satunya dialokasikan kepada Dinas Lingkungan Hidup untuk menjalankan program kerjanya.

Eko Harnanto selaku Kasi Perlindungan dan Pemulihan Kerusakan Lingkungan DLH Kabupaten Blitar, menjelaskan tahun ini DLH menerima dana DBHCHT sebesar Rp 300 juta.  DBHCHT yang dikelola DLH digunakan untuk pelatihan pengelolaan sampah, serta pengadaan tempat sampah  terpilah lima dan pengadaan gerobak sampah. Dana DBHCHT juga dipergunakan untuk uji air dan udara yang difokuskan untuk industri.

“Penggunaan dana untuk kegiatan tersebut kami dari DLH berpedoman pada Peraturan Menteri Keuangan (PMK) yang baru Nomor 22/PMK.07/2017. Sesuai indikatornya kita ikuti PMK yang baru,” kata Eko Harnanto ditemui BLITARTIMES di kantornya, Selasa (15/5/2018).

Dijelaskan, kegiatan yang bersumber dari DBHCHT oleh DLH Kabupaten Blitar akan dilaksanakan pada semester II tahun 2018 atau setelah PAK.

Menurut dia, pengadaan tempat sampah dan gerobak sampah akan berfokus pada Ruang Terbuka Hijau di Wlingi, Kanigoro dan Kantor Pemkab Blitar. Hal tersebut sesuai acuan yang tertuang dalam PMK.

“DBHCHT itu salah satunya memang untuk RTH. Karena kita mengikuti PMK yang baru. Untuk kegiatan keluar atau ke masyarakat belum bisa kita laksanakan karena aturannya belum ada di PMK,” jelasnya.

Sementara untuk pelatihan pengelolaan sampah akan dilaksanakan di tiga lokasi. Masing-masing wilayah Kecamatan Wlingi, Talun, dan wilayah Kecamatan Srengat. “Pelatihan ini akan berfokus pada pengelolaan persampahan. Dan ini program penting untuk meningkatkan SDM di bidang pengelolaan persampahan,” tegas Eko.

Lebih lanjut Eko menyampaikan, uji air dan udara sudah dilaksanakan DLH sejak tahun lalu. Uji air dan udara tidak hanya untuk industry tembakau saja, namun seluruh sektor industry sebagai wujud pengelolaan lingkungan. Uji air dan udara ini penting dilaksanakan untuk mengetahui gangguan lingkungan. Serta sebagai antisipasi kerusakan lingkungan.

“Uji air dan udara akan menyasar 12 titik. Lokasinya sudah kita plot mulai dari Blitar barat sampai Blitar timur. Salah satunya di Greenfields tapi yang ada dibawah,” paparnya.(kmf)