Pelatihan pembuatan pupuk organik dan pestisida nabati bagi petani tembakau yang digelar Dispertan  Kab Blitar.(Foto : Aunur Rofiq/BlitarTIMES)
Pelatihan pembuatan pupuk organik dan pestisida nabati bagi petani tembakau yang digelar Dispertan Kab Blitar.(Foto : Aunur Rofiq/BlitarTIMES)

Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Blitar menggelar pelatihan pembuatan pupuk organik dan pestisida nabati bagi petani tembakau. Kegiatan yang dipusatkan di Local Education Center (LEC) Garum merupakan terobosan kompetitif Pemkab Blitar dalam  pemberdayaan petani yang bersumber dari Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT).

Kegiatan ini diikuti oleh 100 orang petani tembakau dari seluruh wilyah Kabupaten Blitar, salah satunya Kecamatan Selopuro yang merupakan pusat tembakau  Blitar.

Dalam kegiatan ini para petani diberikan pengarahan dan bimbingan oleh narasumber dari Balitas Malang. Adapun tiga pemateri dari Balitas masing-masing Ir Djayadi, Teger dan Hari  Prabowo.

Kabid Pengembangan SDM Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Blitar, Hari Budi Harto, mengataka tujuan kegiatan ini memberikan pemahaman dan meningkatkan sumber daya manusia (SDM) petani tembakau.

Lewat pelatihan pupuk organik Dinas Pertanian mendorong para petani tembakau agar bisa bertani menggunakan pupuk yang bersumber dari alam.

“Kita ingin petani mengurangi penggunaan pupuk-pupuk dari pabrikan. Kita mendorong petani tembakau untuk menggunakan pupuk organik yang bahannya akan diolah lebih dahulu,” jelas Hari Budi Harto kepada awak media di sela-sela pelatihan, Senin (23/7/2018).

Hari menegaskan, membuat pupuk organic tidak sulit. Petani cukup memanfaatkan potensi di sekeliling mereka, salah satunya kotoran ternak.

“Mereka (petani) kan punya ternak, kotorannya diolah untuk dikembalikan lagi ke tanah. Pupuk organic akan bisa menyuburkan tanah untuk kemudian ditanami tembakau. Dan harapannya lagi produksi tembakau akan meningkat,” tukasnya.

Agar menjaid petani tembakau handal, peserta juga diberikan pelatihan pembuatan pestisida nabati. Menurut Hari, pestisida nabati akan berguna dalam mengendalikan hama penyakit tanaman.

Penggunaan pestisida nabati ini jauh lebih ramah lingkungan dibandingkan penggunaan pestisida kimia. Pestisida nabati jauh lebih sehat dan tidak merusak ekosistem lingkungan.

“Pestisida nabati ini bisa dibuat dengan memanfaatkan bahan tanaman yang ada di lingkungan sekitar. Jadi istilahnya kita mengembangkan agency hayati, salah satunya ada yang menggunakan pengembangan trycoderma, apabila disemprotkan hama akan terkena jamur trycoderma dan lambat laun hama tersebut akan mati,” paparnya.

Ia menambahkan, pelatihan ini juga wujud nyata pemanfaatan untuk memajukan dan meningkatkan kesejahteraan petani tembakau.

“Lewat pelatihan ini kita berharap kedepan petani tembakau bisa menekan biaya produksi taninya. Serta petani bisa bertani secara ramah lingkungan secara berkelanjutan,” lanjutnya.

Pelatihan pembuatan pupuk organik dan pestisida nabati digelar selama dua hari, 23 dan 24 Juli 2018. Selanjutnya pada tanggal 25 dan 26 Juli, peserta diajak praktek langsung pembuatan pupuk organic dan pestisida nabati. Praktek digelar langsung di tempat praktisi yang kompeten di bidang pupuk organic dan pestisida nabati.

Sementara dalam paparannya Ir Djayadi dari Balitas Malang, mendorong para petani tembakau harus bisa mandiri, terutama dalam proses pembuatan pupuk organik.Menurut dia, bahan baku pupuk organik sangat melimpah.

Proses pembuatan pupuk organik, dari mempersiapkan bahan baku, pencampuran bahan baku dengan mikroba pengurai bahan baku hingga siap diaplikasikan ke lahan, langsung dipaparkan oleh Ir Djayadi bersama tim dari Balitas.

Kedepan, diharapkan para petani tembakau khususnya, sudah mampu menciptakan pupuk organik sendiri, tanpa ada ketergantungan dari pupuk yang ada dipasaran.

“Saya sangat  mengapresiasi kegiatan ini, makanya proses pembuatan pupuk organik ini saya buka semuanya tanpa ada yang saya tutup-tutupi,” tegasnya.(KMF)