Indonesia Punya Dua Klub yang Juara dengan Kontroversi, Siapa Mereka?

Juara Liga 1 Persija Jakarta dan Juara Liga 2 PSS Sleman
Juara Liga 1 Persija Jakarta dan Juara Liga 2 PSS Sleman

BLITARTIMES, MALANG – Sepak bola Indonesia sudah menemukan dua juara dari dua kasta berbeda. Liga 1 musim 2018 sudah dipastikan menjadi milik Persija Jakarta dan Liga 2 musim 2018 resmi menjadi milik PSS Sleman. Namun dari dua kampiun tersebut, ada kontroversial yang sempat terjadi dalam perjalanannya.

MalangTIMES akan sedikit mengulik perjalanan dua jawara sepak bola Indonesia di dua kasta berbeda ini. Mulai dari drama gol kontroversial hingga indikasi pengaturan skor yang sedang ramai diperbincangkan.

Pertama mari kita ulas juara Liga 1 musim 2018, yakni Persija Jakarta yang baru saja menasbihkan dirinya sebagai yang nomor satu dari tim peserta lainnya.

Minggu (9/12/2018) Persija Jakarta dan PSM Makassar bersaing dalam perebutan juara Liga 1 musim 2018. Dua tim tersebut secara bersamaan bermain untuk menentukan juara, dan pertandingan tersebut layaknya final.

Di klasemen sementara Liga 1 saat itu, Persija unggul satu poin dengan 59 poin dan PSM Makassar sendiri mengumpulkan 58 poin.

Persija Jakarta yang bermain di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) menghadapi Mitra Kukar berhasil menang dengan skor 2-1 melalui dua gol Marko Simic. Sementara untuk pencetak gol Naga Mekes (julukan Mitra Kukar) dicetak oleh Aldino Herdianto.

Akan tetapi, dua gol yang diciptakan oleh Marko Simic sempat menuai banyak protes dari berbagai kalangan. Baik komentator televisi yang menayangkan langsung maupun pecinta sepak bola nasional.

Menurut MalangTIMES sendiri, gol pertama Marko Simic yang dicetak melalui titik penalti itu dihasilkan dari  keputusan wasit yang cukup kontroversial.

Berawal dari umpan silang yang dilakukan oleh Rezaldi Hehanusa atau yang akrab disapa Bule itu melambung indah menuju kotak penalti Mitra Kukar. Disana sudah ada Novri Setiawan (gelandang Persija) berduel dengan Saefulloh (bek Mitra Kukar) yang membelakangi gawangnya sendiri, namun dari arah berbeda Marko Simic muncul dan melakukan diving header.

Dalam tayangan, Saefulloh terjatuh lebih dulu bersama Novri Setiawan dan beberapa detik kemudian Marko Simic juga ikut terjatuh. Saat itu, wasit pengadil lapangan langsung meniup peluit tanda pelanggaran terjadi.

Keputusan tersebut mengundang reaksi dari para pemain Mitra Kukar, Rodriguez dan Luthfi Kamal misalnya yang menganggap Marko Simic terbentur oleh rekannya sendiri, yakni Novri Setiawan.

Namun wasit tetap pada pendiriannya dan melangsungkan proses penalti yang diambil oleh Marko Simic sendiri. Pemain asal Kroasia tersebut mampu menaklukkan kiper Mitra Kukar, Yoo Jae Hoon dengan sempurna. Satu gol Persija unggul.

Kontroversi kembali terjadi saat gol kedua Persija yang diciptakan lagi-lagi oleh Marko Simic. Beberapa pemberitaan menyebut bahwa gol tersebut seharusnya terjadi pelanggaran karena Yoo Jae Hoon dihalangi langkahnya oleh Ramdani Lestaluhu.

Berawal dari bola sepak pojok Ismed Sofyan, pemain yang terkenal dengan tendangan bola matinya itu memberi umpan lambung kedalam kotak penalti. Terjadi kemelut di depan gawang Mitra Kukar dan bola liar masih melambung karena sundulan Renan Silva.

Yoo Jae Hoon yang berinisiatif untuk mengambil bola nyatanya dihalangi oleh Ramdani Lestaluhu dan membuat Marko Simic dengan leluasa menyudul bola yang berbuah gol kedua Persija. Gol tersebut sempat menjadikan pemain Mitra Kukar protes dan mempertanyakan hal tersebut kepada wasit pengadil lapangan.

Dan Mitra Kukar hanya mampu membalas satu gol melalui tendangan keras Aldino Herdianto. Hari itu juga menjadi penasbihan Persija Jakarta menjadu juara Liga 1 musim 2018.

Sebelumnya, sempat ada prediksi dari akun media sosial dan juga mantan pemain nasional, yakni Rocky Putiray. Bahwa pada 10 Mei 2018 lalu atau tepatnya pekan ke 7 atau 8 Liga 1 musim 2018 sudah diprediksi bahwa Persija Jakarta adalah juara untuk musim ini dan kemudian musim 2019 mendatang adalah Bali United untuk juaranya. Namun hal tersebut bisa dipercaya atau tidak karena didalam sepak bola semua bisa terjadi.

Lanjut pembahasan ke Liga 2, yakni PSS Sleman yang berhasil mempersembahkan juara dan naik kasta ke Liga 1 musim 2019 mendatang.

Didalam sejarah, PSS Sleman mulai tahun 1994 hingga 2000 masih berlaga di kompetisi kasta kedua sepak bola Indonesia yang saat itu masih bernama Divisi Satu Liga Indonesia.

Di tahun 2006 silam, PSS Sleman sempat di mendapat sanksi berat oleh PSSI yang berujung pemberitaan internasional dan terdengar oleh FIFA karena sepak bola gajah dengan PSIS Semarang.

Dan kini di kompetisi Liga 2 musim 2018, PSS Sleman yang sudah menjadi juara mempunyai histori kontroversial sebelum berlaga di final menghadapi Semen Padang.

Di babak 8 besar, PSS Sleman dipertemukan dengan Madura FC di Stadion Maguwoharjo. Saat itu Elang Jawa (julukan PSS Sleman) menang dengan skor tipis 1-0. Namun ada beberapa kejadian yang sempat mengundang tanya oleh berbagai pihak.

Kejadian tersebut adalah tidak netralnya wasit M. Reza Pahlevi mulai awal babak hingga menit 71 yang berujung pada cedera. Saat itu, tiba-tiba wasit utama mengalami cedera pada bagian lutut sebelah kiri dan terpaksa harus keluar lapangan. Lama diterapi, akhirnya fourth official, Agung Setiawan masuk untuk menjadi pengadil lapangan.

Namun dengan bergantinya wasit, tetap saja pertandingan justru berjalan dengan tidak semestinya. Pada menit 80, pemain PSS Sleman Slamet Budiyono melakukan solo run dan memberikan umpan ke Ilham Irhaz.

Dan tak disangka, posisi Ilham Irhaz yang dalam posisi offside tidak terpantau atau bisa dikatakan dicuekin oleh asisten wasit 2. Pemain bernomor 87 tersebut memberikan umpan yang rupanya ditujukan untuk Cristian Gonzales. Akan tetapi tanpa disangka bola lambung tersebut dipotong oleh bek Madura FC Choirul Rifan dan masuk ke gawangnya sendiri yang dikawal oleh Usman Pribadi.

Dengan hasil tersebut PSS Sleman kemudian lolos ke semifinal, final dan selanjutnya menjadi jawara Liga 2 setelah mengalahkan Semen Padang dengan skor 2-0 melalui gol Cristian Gonzales dan Rifal Lastori di Stadion Pakansari.

Sementara itu, PSS Sleman juga sempat diisukan terlibat pengaturan skor di Liga 2 dan menjadi bahan perbincangan khalayak luas di Indonesia.

Terlepas dari itu semua, dua juara dari Liga 1 dan Liga 2 musim 2018 ini tidak terlepas dari kontroversi sebelum mengangkat piala yang diinginkan sejak awal musim.

Apakah musim depan akan tetap ada kontroversi sebelum juara ditasbihkan? Patut kita tunggu keseruan Liga 1 dan Liga 2 musim 2019 mendatang.

Pewarta : Hendra Saputra
Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher : Sandi Alam
Sumber : Malang TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]blitartimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]blitartimes.com | marketing[at]blitartimes.com
Top