Nasib Gulali Jawa dan Amezaiku Jepang, Bak Langit dan Bumi

Seni Amezaiku Jepang yang mirip gulali Jawa, tapi dengan nasib berbeda jauh bak bumi dan langit (Ist)
Seni Amezaiku Jepang yang mirip gulali Jawa, tapi dengan nasib berbeda jauh bak bumi dan langit (Ist)

BLITARTIMES, MALANG – Masih ingat dengan makanan anak-anak yang disebut dengan Gulali. 

Permen yang terbuat dari adonan gula kental manis jawa dan biasanya berwarna merah dan hijau.

Permen ini juga bisa dibentuk menjadi beraneka ragam wujud menarik. Baik menyerupai bentuk ayam, bunga, dot, dan lainnya. 

Gulali, ada yang menyebutnya Gula Liat di zamannya yang dijual dengan cara dipikul oleh para pedagang, sempat menjadi barang dagangan favorit bagi anak-anak.

Saat sang pedagang gulali datang, maka anak-anak akan mengerubungi dan memesan gulali dengan permintaan sesuai selera. 

Anak-anak akan berjongkok sambil melihat kemahiran tangan sang penjual gulali. 

Mengambil gula kental manis di wadah berupa wajan kecil yang di bawahnya terdapat kompor yang menyala. 

Lantas merakitnya menjadi berbagai bentuk wujud sesuai permintaan. 

Kemudian, sang penjual  menusuk gulali yang telah berbentuk dengan stik kayu untuk pegangan tangan. 

Kalau anak-anak meminta bentuk gulali yang bisa dijadikan peluit, maka sang pedagang akan menusukkan gunting panas. Untuk melubangi bagian yang akan jadi peluit.

“Kayak Lolipop mas kalau saat ini. Harganya, hanya antara RP 1.000 sampai Rp 2.000. Murah, namanya jajan anak-anak. Tapi memang sudah jarang sekali ada. Saya terpaksa saja masih jualan ini, tidak ada yang bisa dikerjakan lagi,” kata Maman (50) penjual Gulali yang mengaku berasal dari Jawa Barat (Jabar) dan berdomisili di wilayah Sumberpucung, Minggu (30/12/2018).

Maman, salah satu yang masih bertahan berjualan gulali. 

Dengan memikul barang dagangannya, lelaki setengah abad ini berkeliling dari kampung ke kampung. 

Menjajakan dagangannya yang bisa dibilang telah banyak ditinggalkan anak-anak. 

Walaupun, menurut dirinya, masih ada saja anak-anak yang membelinya.

“Masih ada yang beli. Mungkin karena murah dan gulali sebelum dimakan bisa dijadikan mainan anak-anak. Tapi ya begitu sudah sepi, mas. Kalah dengan makanan saat ini,” keluhnya.

Nasib penjual gulali jawa bisa dikatakan sekarat. Digempur berbagai makanan modern anak-anak yang serba praktis dan marak dijual diberbagai warung dan toko. 

Sisi kepraktisan dan kemasan jajanan masa kini telah membuat semakin menghilangnya makanan tradisional seperti gulali. 

Makanan yang bukan saja enak dinikmati tapi ada unsur-unsur pembelajaran bagi anak-anak.

Stimulus bagi otak anak-anak dalam berkreasi memicu kreativitas dan imajinasi anak-anak atas sebuah makanan yang bukan hanya berfungsi menjinakkan nafsu perut saja. 

Dimana, anak-anak secara langsung diajari bagaimana sebuah makanan dibentuk dan menjadi rupa-rupa wujud yang bisa dimainkan.

Tapi, manisnya gulali memang tidak membuat pedagangnya merasakan rasa manis tersebut.

Gulali telah menjadi makanan langka dan tidak lagi diapresiasi. Ini berbeda dengan “gulali” dari Jepang.

“Gulali” Jepang atau disebut Amezaiku, secara bentuk dan pengolahannya mirip gulali jawa.

Pun, keberadaannya yang mengalami rentang panjang waktu. Masuk dalam kategori makanan tradisional yang ditempa oleh waktu. 

Amezaiku, bahkan menurut beberapa literatur telah ada dan hadir sejak periode Heian (794-1185). Atau disinyalir telah ada sejak abad ke-8 di zaman Edo.

Bedanya, amezaiku awalnya dibuat oleh masyarakat sebagai persembahan di kuil-kuil, menjelma menjadi industri kerajinan permen ternama di Jepang. 

Bahkan, amezaiku menjadi bagian dalam melengkapi pariwisata Jepang dalam bidang kulinernya.

Para perajin amezaiku benar-benar bak bumi dan langit apabila dibandingkan dengan Maman atau penjual gulali jawa yang masih bertahan sampai saat ini. 

Baik secara pendapatan apalagi berbicara mengenai teknologi yang dipakai dalam membentuk permen menjadi berbagai macam bentuk menarik. 

Di Jepang para amezaiku disebut seniman. Karena masyarakat dan pemerintahnya benar-benar menghargai olah kreativitas warganya.

Kemahiran mengolah permen menjadi berbagai bentuk menarik yang tentunya dibuat secara detail dan rumit membuat harga permen di Jepang ini terbilang tinggi sekali dibandingkan dengan harga gulali jawa.

Satu amezaiku bisa dibandrol dengan harga ratusan bahkan ribuan yen. Disesuaikan dengan tingkat kesulitan dan kerumitan bentuk yang harus dibuat dari permen tersebut. 

Dengan asumsi satu yen setara dengan 132 rupiah, maka harga permen Jepang yang telah menjadi salah satu ciri unik dan dikenal dunia ini. Beratus kalinya harga gulali jawa. 

Sebut saja harga amezaiku termurah di Jepang yang dibanderol sekitar 100 yen atau setara dengan Rp 13.200. 

Apabila di bandingkan dengan harga gulali jawa dengan harga paling mahal yaitu Rp 3 ribu maka terlihat ada perbandingan 1 banding 4.

Aa... Oo...
Taman alam jiwa penuh bunga
Rasa suka cita menggelora
Saat tersentuh cinta dilanda asmara
Manis penuh pesona gulali dunia
Taman alam jiwa penuh bunga
Rasa suka cita menggelora
Saat tersentuh cinta dilanda asmara
Manis penuh pesona gulali dunia
Gul-gulali dunia, manisnya merasuk ke dalam jiwa

Meronai rasa berselera sukma bergairah
Gembira, bahagia
Semua nampak indah, aduhai manisnya
Duh manis gula gulali dunia
Manis tiada tara

Gul-gulali dunia, manisnya merasuk ke dalam jiwa

Meronai rasa berselera sukma bergairah
Gembira, bahagia

Semua nampak indah, aduhai manisnya
Semua nampak indah, aduhai manisnya

Duh manis gula gulali dunia
Manis tiada tara
Hm-hm-hm-hm-hm-hm-hm...

Begitulah lirik lagu yang disenandungkan Rhoma Irama. Gulali manisnya merasuk ke dalam jiwa. Tapi tidak bagi para penjualnya di Jawa yang masih bertahan di tengah gempuran makanan atau jajan modern anak-anak masa kini.

 

Pewarta : Dede Nana
Editor : Heryanto
Publisher : Raafi Prapandha
Sumber : Malang TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]blitartimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]blitartimes.com | marketing[at]blitartimes.com
Top