Keboen Kopi Karanganjar, Sensasi Ngopi Dilayani Bule

Bule magang di Keboen Kopi Karanganjar Blitar.(Foto : Team BlitarTIMES)
Bule magang di Keboen Kopi Karanganjar Blitar.(Foto : Team BlitarTIMES)

BLITARTIMES – Bagi sebagian besar orang, kurang lengkap rasanya jika berbincang santai tanpa ditemani secangkir kopi. Budaya nongkrong sambil ngopi memang sudah tak asing lagi bagi orang Indonesia. Kopi memang menjadi sudah menjadi teman setia saat berkumpul bersama keluarga, sahabat ataupun orang-orang terdekat di sekitar.

Banyak pilihan tempat untuk menikmati kopi. Di antaranya juga merupakan tempat yang istimewa. Salah satu tempat ngopi anti mainstream di Blitar sebut saja ‘Keboen Kopi Karanganjar’. Tempat ngopi ini ada di Dusun Karanganyar, Desa Modangan, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar.

Di sini pengunjung  bisa menikmati berbagai olahan kopi asli Blitar di tengah perkebunan kopi peninggalan Belanda. Dan yang lebih menarik lagi  bisa minum kopi di tengah kebun dan dilayani para bule.

“Ya memang disini banyak bule-bule yang magang, intinya di sini mereka belajar dan berwisata, istilahnya culture exchange atau pertukaran budaya. Jadi belajar lebih dalam tentang kopi, memang kebanyakan mereka kan belum pernah lihat tanaman kopi,” ungkap Direktur Utama Keboen Kopi, Karanganyar, Wima Brahmantya kepada BLITARTIMES, Kamis (31/01/2019).

Keboen Kopi Karanganjar berdiri atas lahan seluas 250 hektar, dengan destinasi wisata yang mengusung konsep agrohistori coffee. Di sini bangunan-bangunan arsitektur ala Belanda tetap dijaga keasliannya. Hal itu dapat dilihat dari bangunan kantor, cafe hingga pabrik yang masih lengkap dengan cerobong asapnya.

“Kebun kopi ini dibangun sejak zaman Belanda, sekitar tahun 1874. Lalu diteruskan pemegang HGU yakni PT Harta Mulia tahun 1960. Kemudian dibuka menjadi destinasi wisata baru sekitar 2 tahun yang lalu, tepatnya Desember 2016 lalu kalo gak salah," jelasnya.

Untuk memasuki area Keboen Kopi Karanganjar ini, pengunjung cukup membayar Rp 10.000 per orang. Lalu petugas akan memasangkan gelang kertas berwarna hijau, dan disana kita akan ditemani seorang pemandu untuk berkeliling di area perkebunan.

Disini pengunjung akan diceritakan sejarah perkebunan kopi di Blitar terutama di Karanganyar. Dan selanjutnya kita juga diajak menyaksikan proses penanaman hingga pengolahan kopi mulai pembibitan, penanaman hingga pemeliharaan tanaman kopi hingga proses pengolahan pasca panen.

“Disini selain pengunjung bisa belajar tentang pengolahan kopi mulai dari pembibitan hingga pengolahan menjadi kopi siap saji, mereka bisa menikmati kopi asli Blitar. Jadi yang asli sini ada Robusta sama Excelsa,” terangnya.

Setelah puas berkeliling pabrik kopi dengan berbagai sejarah yang melekat pada tiap sisi bangunannya, pengunjung bisa menikmati kopi di tengah sejuknya udara di kebun kopi. Uniknya lagi, suasana zaman Belanda makin kental saat pesan kopi dan yang melayani kita adalah para bule.

“Mereka magang atau kami menyebutnya volounteer. Disini mereka juga kami ajak mengajar bahasa Inggris bagi anak-anak yang tinggal sekitar perkebunan. Jadi disini waktu mereka 7 hari menginap disini, 5 hari belajar disini dan sisanya kita ajak city tour, jadi kita kenalkan wisata-wisata di Blitar,” jelas Indah (21), salah satu pemandu turis di Keboen Kopi Karanganjar.

Tak cuma ada kopi, di kebun ini juga bisa dijumpai sedikitnya tiga museum. Museum-museum itu dikelola oleh ayah Wima Brahmantya yakni Herry Noegroho, mantan Bupati Blitar yang juga keturunan Denny Roshadi, pemegang tongkat estafet kepemilikan kebun berstatus hak guna usaha pasca-Belanda.

Ada Museum Pusaka, Museum mBlitaran, dan Museum Purnabakti. Museum mBlitaran berisi lukisan-lukisan koleksi pribadi pengelola kebun kopi. Museum Pusaka berisi keris-keris kuno berbagai jenis. Misalnya keris omyang, keris tilam, keris keleng luk 7, dan keris junjung drajat. Ada juga benda pusaka kraton, seperti tombak. Di salah satu ruangan, terdapat lukisan Nyi Roro Kidul. Ruangan ini terasa sakral. Pengunjung tak boleh memotret benda-benda pusaka bila masuk ke ruangan ini.

Tempat wisata Keboen Kopi Karanganjar dibuka untuk umum setiap hari mulai 08.00 s/d 17.00 WIB. Jika ingin membawa pulang kopi bubuk atau biji kopi, pengelola juga menyediakan kopi bubuk dalam 2 kemasan. Kopi dengan berat 150 gram berharga Rp 20 ribu, sedangkan berat 250 gram harganya Rp 30 ribu. Sungguh lengkap bukan?.(*)

Pewarta : Aunur Rofiq
Editor : A Yahya
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Blitar TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]blitartimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]blitartimes.com | marketing[at]blitartimes.com
Top