Ilustrasi, gambaran bekas aliran banjir pedu atau air campur material pasir di kawasan TNBTS Bromo, beberapa waktu lalu. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

Ilustrasi, gambaran bekas aliran banjir pedu atau air campur material pasir di kawasan TNBTS Bromo, beberapa waktu lalu. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)



Wisatawan yang ingin berakhir pekan di kawasan Taman Nasional Gunung Bromo Tengger Semeru (TBNTS) harus lebih waspada. Terutama, yang ingin melihat indahnya kawasan lautan pasir atau pasir berbisik. Cuaca ekstrem yang terjadi di kawasan tersebut berpotensi menimbulkan banjir pedu atau aliran air bercampur pasir. 

Humas Balai Besar TNBTS, Sarif Hidayat berharap agar wisatawan yang berkunjung ke Gunung Bromo untuk tidak melewati kawasan lautan pasir agar tidak terjebak banjir. "Kami mengimbau para pengunjung dan masyarakat yang akan berwisata  melewati laut pasir untuk waspada, berhati-hati, tidak melewati laut pasir pada musim hujan untuk menghindari terjebak situasi banjir," katanya. 

"Selain itu, kami meminta kendaraan  agar melewati jalur aman yang sudah tersedia. Tidak diperkenankan untuk membuat jalur-jalur baru, serta  memiliki informasi yang cukup mengenai kondisi pada saat berkunjung di kawasan wisata Bromo dan sekitarnya," imbuh Sarif.

Akhir-akhir ini, viral di media sosial tentang video banjir yang membentuk aliran sungai di kawasan TNBTS. Video tersebut menimbulkan banyak polemik dan pertanyaan wisatawan. Dalam video-video yang beredar di internet, tampak aliran pedu tersebut membahayakan bagi wisatawan karena deras dan mengandung material vulkanik.

Menanggapi hal tersebut, Sarif mengungkapkan jika fenomena tersebut terjadi pada hari Jumat (25/1/2019) lalu. "Kejadian antara  pukul 14.00 sampai 17.45 WIB. Itu dikarenakan curah hujan  dengan intensitas yang cukup tinggi di sekitar kawasan Bromo," ungkap dia.

Lebih lanjut Sarif menjelaskan, laut pasir Bromo berada pada posisi lembahan yang dilingkari oleh beberapa pegunungan yaitu Pegunungan Tengger, Bromo, Batok, Widodaren, Watangan dan Keciri. Sehingga dengan kondisi geografis ini apabila terjadi musim hujan dengan intensitas yang cukup tinggi kawasan lautan pasir Bromo dan sekitarnya akan menjadi lokasi limpasan air dari pegunungan yang ada di sekitarnya. 

"Sebenarnya ini hanya fenomena biasa saja. Struktur sifat pasir dengan porositas (kemampuan menyerap air) tinggi dan lembek, mengakibatkan air yang mengalir dalam jumlah besar akan membentuk aliran sungai seperti yang sekarang viral terjadi," tutur Sarif.

Meski demikian, sambung Sarif, dikarenakan sifat dan struktur pasir itulah yang justru menyebabkan  aliran air dalam jumlah besar tersebut tidak berlangsung lama atau hanya sekitar satu jam. Nantinya air akan segera surut dan kondisi akan normal seperti biasanya. 

"Bagi wisatawan atau pengunjung yang kebetulan  melewati atau berada pada lokasi kejadian tersebut akan menyulitkan untuk melakukan mobilisasi, karena terhambat oleh aliran air. Untuk itu, kami berharap wisatawan mewaspadai  kondisi ini," tegasnya.

Ia menambahkan, aliran sungai tersebut bermuara di Blok Mendongan sebelah Barat Laut Pasir atau  Timur Laut Blok Watu Kuto, yang selanjutnya akan muncul sumber mata air di Desa Ngadirejo, Sapi Kerep, Wonokerto, Ngadas, Umbulan Sukapura, bahkan sampai dengan pemandian Banyu Biru dan Umbulan Lain di Kabupaten Pasuruan yang berada di Kaki Kawasan Bromo Tengger Semeru. 

"Kami akan  terus menyiagakan  personel untuk mengantisipasi kejadian yang tidak diinginkan di dalam kawasan, serta akan memberikan informasi yang memadai mengenai fenomena atau kejadian yang terjadi di dalam kawasan TNBTS," pungkasnya.

Tag's Berita

End of content

No more pages to load