Jagung di Blitar Melimpah, Kementan Gandeng Peternak Serap Jagung Petani

Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan RI pimpin panen raya jagung di Desa Tulungrejo Wates.(Ist)
Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan RI pimpin panen raya jagung di Desa Tulungrejo Wates.(Ist)

BLITARTIMES – Kementerian Pertanian terus berupaya untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan peternak, termasuk didalamnya petani jagung dan peternak ayam petelur (layer). Menghadapi panen raya jagung akhir-akhir ini Kementerian Pertanian terus mensinergikan kerjasama antara petani jagung dan peternak ayam petelur.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementrian Pertanian RI, I Ketut Diarmita beranggapan, petani jagung dan peternak ayam itu ibaratnya memiliki hubungan simbiosis mutualisme, dimana satu sama lain saling membutuhkan. 

I Ketut mengatakan bahwa Pemerintah selaku fasilitator akan terus menjembatani petani dan peternak untuk saling bekerjasama dan saling mendapatkan keuntungan.

“Tujuan kami datang kesini adalah untuk menjembatani kebutuhan petani dan peternak, sehingga petani bisa untung dan peternak bisa tersenyum,” ungkapnya saat hadir pada acara Panen Raya Jagung Desa Tulungrejo, Kecamatan Wates, Kabupaten Blitar, Selasa (5/3/2019).

Petani jagung di Blitar saat ini sedang menikmati musim panen raya jagung. Berdasarkan data dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Blitar dilaporkan bahwa luas lahan yang dipanen pada Kecamatan Wates 3.033 Ha dengan perkiraan panen jagung sebanyak 15.000-18.000 ton, sedangkan di lokasi acara saat panen di Desa Tulungrejo luas panen mencapai 452 Ha dengan perkiraan panen jagung sebanyak 2.200-2.700 ton.

I Ketut menuturkan, jagung tidak saja dimanfaatkan sebagai konsumsi langsung untuk pangan, namun juga dimanfaatkan oleh industri pakan, para peternak ayam petelur (layer) serta industri benih. 

"Ini alasannya kenapa saya Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan ditugaskan oleh Bapak Menteri Pertanian hadir dalam acara panen jagung di sini,” ucap I Ketut Diarmita menjelaskan. “Saya mengajak bapak dan ibu sekalian untuk meningkatkan produksi jagung dan meningkatkan populasi ternak,” tambahnya.

Dikatakannya bahwa pengguna jagung terbesar di Indonesia peternak dan pabrik pakan sebagai bahan pakan terutama pakan unggas. Berdasarkan data prognosa jagung tahun 2018 Badan Ketahanan Pangan dari total penggunaan jagung di Indonesia sebesar 15,58 juta ton dan sekitar 66,1 persen atau sekitar 10,3 juta ton adalah industri pakan dan peternak mandiri.

“Untuk tahun 2019, kebutuhan jagung industri pakan diperkirakan sebesar 8,6 juta ton ditambah kebutuhan jagung peternak mandiri sebesar 2,9 juta ton,” kata I Ketut Diarmita. Hal ini menurutnya dapat menjadi pendorong bagi berkembangnya agribisnis jagung di Indonesia dalam rangka peningkatan produksi dan kesejahteraan petani dan motor penggerak pembangunan di pedesaan.

Namun demikian Ia ungkapkan bahwa permasalah pokok terkait jagung, yaitu adanya fluktuasi produksi jagung. “Sekitar 75 persen total produksi jagung terjadi pada bulan Januari hingga Agustus, sedangkan kebutuhan industri pakan dan peternak mandiri relatif konstan sepanjang tahun. Fluktuasi produksi inilah yang akan menimbulkan peluang terjadinya guncangan terhadap harga jagung domestik, untuk itu kita harus mengelolanya dengan baik,” terangnya.

Lebih lanjut I Ketut menjelaskan bahwa salah satu yang dilakukan untuk menjembatani kepentingan petani dan peternak terkait dengan harga jagung adalah Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 96 Tahun 2018 Tentang Harga Acuan Pembelian Di Tingkat Petani Dan Harga Acuan Penjualan Di Tingkat Konsumen.

"Dalam Permendag ini telah ditetapkan harga acuan pembelian jagung di tingkat petani dengan kadar air 15% sebesar Rp. 3.150/kg dan harga acuan penjualan di industri pengguna (sebagai pakan ternak) sebesar Rp 4.000/kg,"ungkap I Ketut Diarmita.

Dia berharap agar Perum BULOG dapat menjembatani kepentingan petani sebagai produsen serta kepentingan peternak dan industri pakan sebagai pihak konsumen, sehingga harga jagung tetap stabil saat pada saat panen raya seperti  ini.

"Selamat kepada petani yang pada hari ini melakukan panen raya jagung, semoga hasil panen ini kian menambah motivasi para petani untuk lebih meningkatkan luas tanam maupun produktivitas. Di sini saya juga meminta partisipasi aktif dari peternak dan industri pakan dalam menjaga stabilitas harga jagung melalui optimalisasi penyerapan jagung oleh para peternak mandiri dan pabrik pakan,’ tambahnya.

I Ketut menegaskan bahwa Pemerintah hanya memfasilitasi dalam negosiasi antara petani, peternak dan feedmil, sehing petani, peternak dan pihak feedmill mendapatkan harga yang saling menguntungkan semua pihak. “Bila terjadi situasi yang tidak stabil, mari dibicarakan bersama-sama untuk mencari solusi yang terbaik,” tandasnya.

Sementara Asisten I Bidang Ekonomi Pembagunan Daerah Pemkab Blitar, Tuti  Khomariati memberikan apresiasi kepada Kementan yang telah memberikan batuan benih kepada petani di wilayahnya. 

Kecamatan Wates mendapatkan bantuan benih jagung seluas 1050  ha dengan jumlah benih sebanyak 15.750 kg, sedangkan untuk seluruh Desa Tulungrejo mendapatkan bantuan benih jagung seluas 225 ha dengan jumlah benih sebanyak 3.375 kg.

Acara panen raya jagung di Desa Tulungrejo, Kecamatan Wates, khususnya yg dikelola oleh Kelompok Tani Sido Makmur dengan luas hamparan yang ditanami jagung seluas 70 ha dengan provitas jagung 6,1 ton/ha. Sebelumnya kelompok tani ini mendapat bantuan dari Kementerian Pertanian sebanyak 25 ha dengan benih 375 kg, selebihnya ditanami jagung secara swadaya.

Lebih lanjut Tuti mengungkapkan bahwa upaya yang dilakukan Pemda Blitar untuk stabilkan harga adalah mempertemukan antara petani jagung dan peternak untuk melakukan kerjasama, sehingga saling menguntungkan. “Petani jagung dan peternak sebaiknya ada hubungan yang saling menguntungkan, sama-sama saling mensejahterakan,” imbaunya.

Pemkab Blitar berharap dengan kehadiran Dirjen PKH pada saat panen raya jagung ini dapat memberikan semangat kepada petani dan peternak untuk tetap menanam jagung dan meningkatkan populasi ternak.

Panen raya jagung yang sedang dinikmati oleh petani jagung di Kabupaten Blitar ini selain dihadiri Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Rijuga dihadiri oleh Asisten I Bidang Ekonomi Pembagunan Pemkab Blitar Tuti Komaryati, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan  Wawan Widianto, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Jawa Timur Adi Andaka,  Kepala Pusvetma Surabaya, Pasiter Kodim 0808/Blitar Kapten Cba Chudori, , Kepala BULOG Divre Jawa Timur serta para peternak.

Pada kesempatan tersebut, perwakilan dari Asosiasi Peternak Blitar, Rofi Rosiawan menyatakan siap membeli jagung sebanyak 1.000 – 1.500 ton perhari dengan harga Rp. 3.650,-/kg dengan kadar air 16 – 17% dan akan dibayar cash.

Sementara itu Sukarman selaku Ketua Koperasi Peternak Unggas Sejahtera Blitar, menyampaikan  bahwa Blitar masih kekurangan sekitar 680 ribu ton per tahun, sehingga untuk memenuhi kebutuhan tersebut diharapkan hasil produksi jagung dari Blitar tidak dijual keluar. 

“Kami juga mengusulkan kepada Kementan agar bantuan dryer yang diberikan kepada petani dan peternak  di Lamongan sebanyak 20 dryer, dapat dipindahkan 10 dryer untuk petani dan peternak Blitar,” pungkasnya.(*)

Pewarta : Aunur Rofiq
Editor : Heryanto
Publisher : Sandi Alam
Sumber : Blitar TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]blitartimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]blitartimes.com | marketing[at]blitartimes.com
Top