Tagar #TidakAtasNamaSaya Jadi Trending Topic, Alissa Wahid: Umat Islam di Indonesia Baik-Baik Saja

Tagar #TidakAtasNamaSaya menggelora di medsos Twitter. (@alissawahid)
Tagar #TidakAtasNamaSaya menggelora di medsos Twitter. (@alissawahid)

BLITARTIMES, MALANG – Prediksi banyak kalangan serta aparat penegak keamanan terkait seruan people power atau gerakan kedaulatan rakyat tanggal 22 Mei terbukti. Aksi ricuh dan bentrok antara pendemo, yang disebut pihak kepolisian bukan bagian dari pihak yang mencari kebenaran, dengan aparat terjadi. Korban jiwa pun menyertai aksi 22 Mei tersebut.

Keprihatinan atas aksi rusuh tersebut menimbulkan berbagai pernyataan di media sosial (medsos), khususnya Twitter, yang tidak terkena pembatasan layanan oleh pemerintah seperti yang terjadi di beberapa platform medsos lainnya semisal Facebook, Instagram, dan WA .

Pernyataan keprihatinan di Twitter dengan tagar #TidakAtasNamaSaya menyeruak menjadi trending topic Indonesia. Melalui kicauan Alissa Wahid, putri mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, tagar ini berusaha memperlihatkan bahwa umat Islam di Indonesia baik-baik saja atau tidak seperti yang sempat menjadi viral diberbagai medsos sebelum adanya pembatasan layanan oleh pemerintah. Yakni berbagai narasi, baik video dan teks, memperlihatkan bahwa aksi 22 Mei merupakan kekecewaan mendalam umat Islam Indonesia terhadap pemerintah yang diwakili lembaga-lembaga penyelenggara Pemilu 2019 serta kepolisian RI.

"Saya Muslim, bagian umat Islam, saya mendukung NKRI dan Pemerintah. Saya menolak diwakili paksa oleh narasi Umat Islam ditindas, ditembaki, dicurangi dsb. Umat Islam di Indonesia baik-baik saja," kicau @AlissaWahid dengan menyematkan tagar #TidakAtasNamaSaya.

Tagar itu sampai Rabu (22/05/2019) malam telah disukai 7 ribu akun dan diretuit sebanyak 6,7 ribu serta diikuti dengan kicauan 26,8 ribu akun, semakin memperlihatkan sikap mereka terhadap kerusuhan aksi 22 Mei. 

Warganet beramai-ramai menyatakan mereka muslim maupun nonmuslim yang mendukung NKRI dan pemerintah. Mereka juga dengan tegas menolak diwakili paksa oleh narasi umat Islam dan rakyat ditindas, ditembaki, dicurangi.

@shifaee_ menuliskan sikapnya terkait demo 22 Mei yang membuat jatuh korban serta pembakaran mobil aparat dan membuat Jakarta terlihat mencekam. "Saya Islam keluarga saya islam. Kami ibadah dengan tenang, kami berdoa untuk negeri agar senantiasa aman dan damai, sedih hati saya saat agama yg saya anut dibawa-bawa dan mengatas namakan untuk rakyat!! Rakyat yg mana??? #TidakAtasNamaSaya," tulisnya dengan nada geram atas perbuatan para oknum yang mengatasnamakan Islam tetapi melakukan perbuatan yang dilarang agama Islam maupun agama lainnya. 

Pernyataan warganet lainnya yang juga menunjukkan etnis bertebaran di tagar tersebut. Sebut saja @msprihartono yang menuliskan: "Saya Flores, bagian dari rakyat Indonesia, saya mendukung NKRI dan Pemerintah. Saya menolak diwakili paksa oleh narasi rakyat ditindas, ditembaki, dicurangi dsb. Rakyat Indonesia baik-baik saja."

Pun @antdangkalyang mengaku orang Jawa. "Saya wong jowo, bagian dari Rakyat Indonesia, saya mendukung NKRI. Saya menolak diwakili paksa oleh org2 yg bernarasi rakyat ditindas, dicurangi dll. Rakyat Indonesia baik2 saja. Enak ae mereka bicara mewakili rakyat Indonesia," tulisnya.

Kicauan @ratnaismy1 pun semakin menegaskan bahwa takbir yang kerap terdengar lantang serta diikuti dengan kerusuhan oleh mereka yang memekikkannya tidak bisa dijadikan referensi mereka punya hak prerogatif mewakili dirinya dan umat Islam Indonesia secara keseluruhan.
"Saya Muslim Dan kalimat Allahuakbar akan saya ucapkan dengan lemah lembut bukan teriak n buat demo politik," tegasnya menyikapi aksi 22 Mei.

 

Pewarta : Dede Nana
Editor : Yunan Helmy
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Malang TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]blitartimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]blitartimes.com | marketing[at]blitartimes.com
Top