Mengulik Gejala Penyakit Cacar Monyet, Begini Penjelasan Kadinkes Pemkot Blitar

Kepala Dinkes Pemkot Blitar, M.Muchlis.(Foto : Team BlitarTIMES)
Kepala Dinkes Pemkot Blitar, M.Muchlis.(Foto : Team BlitarTIMES)

BLITARTIMES – Kasus penyakit cacar monyet (monkeypox) di Singapura menjadi atensi Dinas Kesehatan (Dinkes) Pemerintah Kota (Pemkot) Blitar untuk diantisipasi potensi mewabahnya penyakit monkeypox di Kota Blitar.

Kepala Dinkes Pemkot Blitar dr. Muhammad Muchlis menerangkan, ada sejumlah gejala yang bisa dialami seseorang jika ada potensi terjangkit penyakit monkeypox atau cacar monyet.

Kata Muchlis, pertama, orang akan mengalami demam kurang lebih lima hingga dua puluh satu hari. Kedua, kepala akan terasa sakit dengan berat. Kemudian terjadi pembesaran kelenjar getah bening di ketiak, leher dan selangkangan.

"Terus otot-ototnya terasa nyeri semua, punggung nyeri diukuti badan terasa lemas. Selanjutnya diikuti dengan ruam-ruam atau bintik merah di kulit. Lama-lama bintik-bintik merah ini membesar berisi cairan atau gelembung. Pertama bening kaya cacar air, kemudian menguning ada nanah," terang Muchlis, Kamis (23/05/2019).

Meski belum terjadi kasus monkeypox di Kota Blitar, Muchlis mengimbau kepada masyarakat Kota Blitar untuk menciptakan pola hidup sehat dengan olahraga secara teratur dan makan makanan yang bersih dan sehat.

Dia mengimbau, jika masyarakat mengalami beberapa gejala penyakit monkeypox, supaya segera melakukan pengendalian awal di pusat kesehatan setempat dan melaporkan kasus itu ke Direktorat Jenderal (Dirjen) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

"Antisipasi pencegahan penyakit monkeypox, dari Dinkes diwajibkan untuk menyebarluaskan informasi tentang penyakit monkeypox kepada masyarakat luas dan fasilitas kesehatan di puskesmas hingga posko dan posyandu," katanya.

Perihal penularan penyakit monkeypox, lanjut dia, melaui cairan tubuh manusia yang menderita penyakit monkeypox ke orang lain. Bisa melalui mulut, hidung, mata, cairan kelenjar-kelenjar dari air liur, luka, maupun dari darah ke darah.

"Sampai sekarang obat untuk monkeypox belum ada. Vaksinnya belum ada. Jadi mencegah dini dengan kesehatan yang kuat. Hindarkan dari penularan, selalu cuci tangan setelah memegang apapun," jelasnya.

Seperti diketahui, beberapa waktu yang lalu di negara Singapura terjadi kasus penyakit monkeypox kepada puluhan orang dari negara Nigeria yang kala itu tengah berada di Singapura untuk mengikuti semimar. Ada 23 orang yang terjangkit penyakit monkeypox saat itu. Mengetahuinya, pemerintah Singapura langsung menindak puluhan orang yang terjangkit penyakit monkeypox itu untuk diisolasi supaya wabah penyakit yang dideritanya tidak menyebar.

Merespon kasus tersebut, Kemenkes RI juga telah menginformasikan kepada jajaran instansi dibawahnya untuk melakukan sosialisasi penyakit monkeypox kepada masyarakat luas. Hal itu ditempuh untuk memutus importasi penyakit monkeypox dari negara Singapura ke Indonesia. Saat ini, di Indonesia juga belum tercatat korban penyakit monkeypox.(*)

Pewarta : Aunur Rofiq
Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher : Sandi Alam
Sumber : Blitar TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]blitartimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]blitartimes.com | marketing[at]blitartimes.com
Top