Sekar Dewi Nawang Ara saat tampil nyinden.(Foto : Malik Naharul/BlitarTIMES)
Sekar Dewi Nawang Ara saat tampil nyinden.(Foto : Malik Naharul/BlitarTIMES)

Di usianya yang masih sangat belia, Sekar Dewi Nawang Ara (17) mantap memutuskan pilihan hidupnya menjadi sinden.  Tak cukup bermodal kecakapan bernyanyi dari kecil, dia terus mengasah kemampuan olah suaranya hingga menekuni profesi sebagai seorang sinden.

Jalan yang ditapaki Sekar Dewi sebagai seniman tidak mudah. Hidup dari keluarga yang serba sederhana, putri ke dua dari tiga bersaudara pasangan Agus Hartono dan Winarti ini mulai menekuni seni olah suara sejak kelas 3 SD.

Remaja asal Desa Bendosari, Kecamatan Sanankulon, Kabupaten Blitar kelahiran 8 Februari 2002 ini mengaku awalnya tak menyangka bisa melantunkan tembang-tembang jawa. Berawal dari hobinya bernyanyi, bakatnya mulai tergali sejak mewakili SDN Bendosari 1 di ajang perlombaan nembang jawa di tingkat Kecamatan Sanankulon.

“Awalnya dulu mau diikutkan lomba nyanyi solo, terus ternyata ada temen saya yang lebih berpotensi, akhirnya saya malah diikutkan lomba nembang lagu jawa. padahal saya belum bisa apa-apa cuman ada waktu latihan tiga hari ternyata malah dapat juara 3,” kenangnya saat diwawancarai BLITARTIMES, Senin (15/07/2019).

Berbekal latihan nembang jawa yang diajarkan oleh gurunya ketika di SD, Sekar terus mengasah bakatnya hingga masuk seleksi tingkat kabupaten dan mewakili Kabupaten Blitar dalam ajang lomba Sinden Tingkat Provinsi pada event Hari Anak Nasional Tahun 2012 di Surabaya.

“Lomba itu kan gak sendiri, ada grup gitu. Jadi kita dapet banyak juara Penyaji Terbaik, juara Grup Musik Terbaik dan satu lagi apa gitu. Setelah itu tahun berikutnya diikutkan lomba lagi dapet juara 1 lagi,” sambungnya.

Dari situ, Sekar justru semakin tertantang untuk mendalami dunia seni olah suara tembang jawa dengan menjadi sinden muda di grup wayang Ki Rudi Gareng. Menurutnya, menjadi seorang sinden di usianya yang masih belia memiliki suka duka tersendiri.

“Karena saya dari kecil emang suka wayang, ikut sinden ini jadi bisa belajar lebih dalam tentang budaya jawa. Susahnya kalo ada tanggapan wayang gitu pulangnya kan mesti sampek pagi besoknya sekolah jadi ngantuk,” ungkapnya.

Menurutnya, menjadi seorang sinden memang gampang-gampang susah. Terutama bagi orang awam untuk menyesuaikan lagu dengan gamelan mungkin terkesan susah. Namun dengan ketlatenan dan latihan tiap hari akan membuatnya terbiasa.

“Belajar budaya jawa itu gak sepenuhnya membosankan sih mas, ya memang gampang-gampang susah, asalkan ‘kulino’ lama-lama akan terbiasa,” imbuhnya.

Meski demikian, profesinya sebagai sinden tidak mengahalanginya untuk terus berprestasi. Berbekal wawasan budaya jawa yang cukup mumpuni, siswi Kelas XI di SMAN 1 Srengat ini terpilih untuk mewakili sekolahnya diajang pemilihan Duta Pariwisata Gus & Jeng Kabupaten Blitar 2019 dan terpilih sebagai pasangan Gus & Jeng Kabupaten Blitar 2019 bersama Ramadha Refondi.

“Sebagai Duta Wisata Kabupaten Blitar dan juga seorang sinden, tentunya saya ingin mengenalkan betapa kayanya kebudayaan yang ada di Blitar ini. Misalnya pengalaman saat karantina Gus & Jeng di Desa Wisata Kemloko kemaren saja ternyata masih banyak sekali potensi wisata budaya yang ada di Blitar,” terangnya.

Di usianya yang masih muda, Jeng Sekar ingin terus berkarya dan mengajak para generasi millennial untuk terus melestarikan budaya nusantara. “Belajar seni budaya itu asyik kok, kalo bukan kita generasi millennial siapa lagi yang akan melestarikan budaya kita,” tutupnya.(*)