Purnama Seruling Penataran sukses digelar dan memukau ribuan penonton.(Foto : Malik Naharul/BlitarTIMES)
Purnama Seruling Penataran sukses digelar dan memukau ribuan penonton.(Foto : Malik Naharul/BlitarTIMES)

Pagelaran Purnama Seruling Penataran 2019 sukses memuaku ribuan penonton yang memadati kompleks Candi Penataran di Desa Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, Selasa malam (16/07/2019).

Selain diapresiasi ribuan penonton, Bupati Blitar Rijanto beserta jajaran OPD dan Forkompimda Kabupaten Blitar turut hadir menyaksikan pagelaran akbar tersebut.

Acara tahunan yang digagas  Dewan Kesenian Kabupaten Blitar sejak 2010  lalu  itu mengusung tema yang berbeda setiap tahunnya. Kali ini mengusung nuansa panggung persaudaraan dan perdamaian dunia dengan menampilkan seniman lokal Blitar, Nusantara, maupun seniman mancanegara.

“Jadi, tujuan digelarnya Purnama Seruling Penataran ini kami dari Dewan Kesenian Kabupaten Blitar memang berupaya untuk mengajak masyarakat Blitar untuk mengenal lagi kekayaan budayanya. Kami memilih Candi Penataran ini karena memang Candi Penataran sendiri merupakan simbol kejayaan Nusantara di masa lampau. Candi Penataran merupakan pusat spiritual kerajaan-kerajaan besar saat itu,” ungkap Wima Brahmantya, ketua Dewan Kesenian Kabupaten Blitar.

Sementara itu, Bupati Blitar Rijanto sangat mengapresiasi pagelaran budaya Purnama Seruling Penataran (PSP) ini. Menurut dia, meski sudah masuk dalam agenda kegiatan Kabupaten Blitar, manajemen PSP saat ini sudah bisa mandiri secara manajerial. Pagelaran ini juga bisa menjadi salah satu panutan bagi kegiatan-kegiatan lain di Kabupaten Blitar.

"Kami sangat mengapresiasi kegiatan tahunan Purnama Seruling Penataran yang digagas Dewan Kesenian Kabupaten Blitar ini. Oleh karena itu, semoga apa yang dilakukan ini bisa menjadikan kita lebih bersemangat lagi dalam membina kebudayaan dan kesenian di daerah kita," ungkap bupati.

Meskipun sebagai tamu undangan, bupati Blitar berama jajarannya tetap membeli tiket sebagai bentuk apresiasi dan juga partisipasi pemajuan budaya dalam pagelaran tersebut. "Kami lihat saat ini Purnama Seruling Penataran sudah bisa mandiri dan lebih elegan dalam menggelar acara. Meski tahun ini panggungnya agak maju di pelataran candi dan atas izin dari Balai Purbakala,  pagelaran ini menjadi agenda Kabupaten Blitar yang sangat ditunggu-tunggu. Untuk itu, meskipun bupati dan jajaran Forkompimda sebagai tamu undangan, kami tetap membeli tiket sebagai bentuk partisipasi kita bersama,” ucap orang nomor satu di Kabupaten Blitar itu.

Purnama Seruling Penataran kali ini menghadirkan jaranan pegon Blitar dan barong dari Sanggar Mega Mendung Budaya yang mewakili penampil lokal. Meski berasal dari Blitar, barongsai dan liong Kelenteng Poo An Kiong adalah representasi kesenian Nusantara.

“Kali ini kami menggabungkan antara seniman lokal, Nusantara dan internasional tujuannya adalah momen ini sebagai spirit bahwa pada masa lalu Kerajaan Majapahit pengaruhnya sudah mendunia. Nah, spirit itulah yang kami bawa ke PSP kali ini,” terang Wima Brahmantya.

Selain menampilkan seniman lokal dan Nusantara,  Purnama Seruling Penataran ini juga menampilkan seniman mancanegara. Yaitu Rodrigo Parejo (Spanyol) dan Yuliana Meneses Orduno (Meksiko).

Sebagai sajian penutup, sesuai dengan tema yang diangkat kali ini, yaitu Bubhuksah dan Gagang Aking, Dewan Kesenian Kabupaten Blitar mempersembahkan karya sendratari dengan judul Bubhuksah dan Gagang berdasarkan relief yang terdapat pada pendopo teras Candi Palah. Yakni cerita tentang perjalanan spiritual dua anak manusia hingga mencapai nirwana.

“Pada event ini kita berbicara tentang persaudaraan dan perdamaian dunia. Seniman mancanegara cukup antusias untuk tampil di PSP kali ini. Kami ingin dengan mencintai budayanya, bangsa ini menjadi bangsa yang bermental dunia dan menjadi pioner, bukan sebagai pengikut,” tutup Wima. (kmf)