Ilustrasi.(Foto : Republika)
Ilustrasi.(Foto : Republika)

Musim kemarau yang datang lebih awal membuat ribuan hektare lahan cabai di Blitar mengalami gagal panen. Setidaknya 15 ton pasokan cabai produksi petani Blitar, berkurang setiap hari. 

Wilayah lahan cabai yang paling parah mengalami gagal panen terjadi di Blitar selatan. Tepatnya di Kecamatan Wates, Binangun, Panggungrejo dan Wonotirto. Lahan di kelima kecamatan ini berada di bukit kapur dan merupakan lahan tadah hujan. 

Kegagalan panen terjadi, karena batang pohon cabai mengering, layu lalu mati. Padahal, pohon-pohon cabai itu seharusnya panen bulan Agustus mendatang. 

"Ini musim kemarau datang lebih awal. Jadi batang pohon yang produktif itu mengering lalu mati. Padahal seharusnya bisa dipanen Agustus nanti," kata Kasi Hortikultura Dinas Pertanian Pemkab Blitar, Hikmah Wahyudi.

Menurut Hikmah, sebenarnya buah cabai di pohon yang mati sangat banyak. Pada awal Juni, pohon-pohon itu sangat produktif saat panen raya. Seperti data yang terekam di Dinas Pertanian Pemkab Blitar, luasan lahan cabai 7.000 hektare. Dengan kapasitas panen sebanyak 250 ton per hari. 

"Habis lebaran itu pas panen raya, harganya kan anjlok. Hanya Rp 2000 per kg dari petani. Sekarang banyak panen gagal begini harga dari petani sudah tinggi. Hari ini mencapai Rp 43.000 per kg," ungkap PPL Kecamatan Binangun, Heri. 

Dengan adanya kemarau yang datang lebih awal, diprediksi sebanyak 15 ton cabai akan mengurangi stok produksi cabai dari Blitar. Angka ini diperoleh dari jumlah batang pohon cabai per hektare sebanyak 21.000 batang. Per batang rata-rata produksi mencapai 0,5 kg. 

Dan saat ini, kualitas penurunan produksi tiap batang pohon berkisar 0,2 dari masa panen raya. Sementara lahan yang mengalami kegagalan panen sekitar 2.500 hektare.(*)