Workshop Sertifikasi Organik yang digelar Pemdes Gogodeso (Foto : Aunur Rofiq/BlitarTIMES)
Workshop Sertifikasi Organik yang digelar Pemdes Gogodeso (Foto : Aunur Rofiq/BlitarTIMES)

Pemerintah mengubah prioritas penggunaan dana desa. Dana desa tak lagi diutamakan untuk membangun infrastruktur, tetapi memberdayakan perekonomian warga desa. Salah satu tujuannya agar tingkat kemiskinan di perdesaan terus berkurang.

Program prioritas pertama Dana Desa adalah mendorong perbaikan kualitas sumber daya manusia (SDM) perdesaan. Sebelumnya selama ini pemerintah berfokus pada perbaikan infrastruktur. Setelah infrastruktur terbangun, kompetensi warga desa harus meningkat agar dapat memanfaatkan pembangunan di wilayahnya.

Desain perencanaan pembangunan pemerintah tersebut ditangkap secara apik oleh Pemerintah Desa Gogodeso, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar. selain pembangunan fisik, Pemdes Gogodeso aktif memberikan pelatihan keterampilan untuk masyarakat desa yang berprofesi sebagai petani.

Salah satu kegiatan peningkatan SDM di bidang pertanian melalui Dana Desa adalah Workshop Sertifikasi Organik  dan Launching Sekolah Lapang Pertanian yang digelar pada Rabu (17/7/2019). Seminar ini dihadiri petani, pendamping desa dan penyuluh pertanian. Adapun pemateri yang dihadirkan dalam workshop yakni Prof Gatot Mujiono (Pakar Pertanian), Saptini Muji Rahajeng (BBPT Pertanian Ketindan), Mat Safii (Dinas Pertanian Pemkab Blitar), Boing Kristiawan (Petani Indonesia Menggugat), Ediyanto (Direktur BPJP Up Lodoyo), dan Samsul Hadi (Fakultas Pertanian UB Malang).

“Standarisasi dan sertifikasi produk pertanian organik harus dilakukan untuk konsumsi makanan sehat. Workhsop ini kita menekankan kepada petani bahwa untuk menuju produk pangan organik yang benar-benar sehat itu perlu proses,” ungkap Kepala Desa Gogodeso, Choirul Anam.

Pertanian organik telah lama dikembangkan oleh Desa Gogodeso. Hampir seluruh petani di desa ini bertani organik. Kades berharap workshop yang digelar ini bisa meningkatkan SDM dan mengangkat kesejahteraan petani desa setempat.

“Ini sebagai awal atau pengenalan, dan pemberdayaan akan kami lanjutkan melalui sekolah lapang. Kami berharap dengan Dana Desa produksi pertanian semakin meningkat dan berkualitas, dengan sertifikasi produk pertanian bisa bersaing di pasar dan mengangkat kesejahteraan petani,” sambungnya.

Di kesempatan ini Choirul juga menekankan, sertifikasi itu sifatnya pengakuan. Sementara untuk produksi sangat tergantung terhadap perilaku petaninya. “Sertifikasi ini untuk mendapat pengakuan bahwa produksi kita benar-benar sehat dan tidak mengandung residu kimia,” tandasnya.

Lebih dalam Choirul menyampaikan, sektor pertanian adalah program kerja prioritas Pemdes Gogodeso. Ini tak lain karena mayoritas warga desa setempat bekerja sebagai petani. Oleh sebab itu, setiap tahun pihaknya selalu mengucurkan Dana Desa untuk program-program pertanian.

“Dana Desa yang kita alokasikan untuk pemberdayaan itu wujudnya memang tidak terlihat. Tapi pemberdayaan harus kita lakukan agar Dana Desa ini betul-betul bermanfaat untuk kepentingan masyarakat. Karena kalau petani memproduksi beras sehat maka otomatis manusianya sehat, kalau manusianya sehat kalau membangun bangsa dan negaranya juga akan kuat,” tandasnya.

Program-program pertanian yang dilaksanakan Pemdes Gogodeso mendapat apresiasi dari banyak pihak. Staf Ahli Dana Desa P3MD mitra dari Dinas Pemberdayaan Masyakat dan Desa Pemkab Blitar, Rudyanto Hendra Setyawan menilai perjalanan pembangunan pertanian di Desa Gogodeso sangat bagus. Namun demikian hal ini dicapai tidak dengan proses instan. Banyak proses yang dilalui hingga program pemberdayaan bisa dirasakan manfaatnya oleh petani dan masyarakat.

“Kedaulatan pangan ini dimulai dengan proses penyadaran bersama-sama dengan masyarakat. Seluruh proses tanam padi mulai dari bibit, pupuk, panen, pasca panen dan pemberantasan hama dilakukan tanpa bahan kimia. Ini murni dilakukan secara organik. Prosesnya lama, dimulai sejak 3 tahun yang lalu,” katanya.

Proses yang berjalan lama itu kini membuahkan hasil. Salah satu kunci keberhasilan tersebut adalah ketelatenan Kepala Desa Gogodeso Choirul Anam yang tak henti-hentinya mengajak warganya untuk bertani sehat dengan bertani organik.

“Prosesnya jatuh bangun. Salut untuk Pak Kades. Petani Gogodeso kini telah mampu menyiapkan pengelolaan organik secara sederhana dan bisa membuat sendiri siklus pupuk organik. Hasil pertanian organik di Gogodeso sudah dirasakan manfaatnya, kedaulatan pangan sudah tercapai,” tegasnya.

Terkait workshop sertifikasi organik, Rudi menilai ini merupakan kegiatan bagian dari proses yang harus dijalankan kepala desa. Sertifikasi ini untuk menegaskan bahwa organik bukan hanya proses menanamnya, perawatannya dan pemupukannya.

“Tapi ada hal-hal lain yakni uji tanam, pemberantasan hama ataupun agen-agen hayati yang tidak menganggu tanaman penting. Termasuk pengelolaan mikro organisme, tidak memusnahkan semuanya, tapi bagaimana tanaman itu bisa lestari karena unsur-unsur tercukupi,” pungkasnya.(*