Genjot Pembangunan Bank Sampah di Pedesaan, DLH Pemkab Blitar Gelar Bimtek untuk 4 Desa

Bimtek Bank Sampah di TPA Tegalasri. (Foto: Aunur Rofiq/BlitarTIMES)
Bimtek Bank Sampah di TPA Tegalasri. (Foto: Aunur Rofiq/BlitarTIMES)

BLITARTIMES – Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Blitar terus berupaya maksimal dalam mengoptimalkan fungsi Bank Sampah untuk mengendalikan masalah persampahan. 

Upaya memasyarakatkan Bank Sampah terus didorong, salah satunya dengan kembali menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengelolaan Bank Sampah melalui Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT), Kamis (18/7/2019).

Bimtek yang dipusatkan di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Tegalasri, Desa Tegalasri, Kecamatan Wlingi, Kabupaten Blitar diikuti oleh peserta terdiri dari tokoh masyarakat, karang taruna, PKK, Dasa Wisma dan pegiat lingkungan. Peserta berasal dari 4 desa meliputi Desa Tembalang, Ngadirenggo, Tegalasri dan Balerejo.

“Bimtek ini satu rangkaian dengan giat kemarin. Cuma kali ini pesertanya berbeda. Kami prioritaskan untuk masyarakat yang berada di sekitaran TPA Tegalasri,” ungkap Kasi Persampahan DLH Pemkab Blitar, Eko Harnanto.

Eko menambahkan, melalui Bimtek ini diharapkan masyarakat menjadi tahu jika di dekat tempat tinggal mereka terdapat TPA dan mau membentuk Bank Sampah untuk mendukung kerja TPA dalam pengelolaan persampahan.

“Di sekitaran TPA Tegalasri ini, di desa-desa tempat tinggal peserta ini belum ada Bank Sampah. Harapan kami masyarakat bisa memanfaatkan lokasi TPA untuk padat karya untuk sampah yang bisa didaur ulang. Sehingga tumpukan sampah di TPA bisa berkurang,” sambungnya.

Sementara itu Kepala DLH Pemkab Blitar, Krisna Triatmanto, mengatakan, salah satu program prioritas instansinya adalah membangun pengelolaan Bank Sampah terpadu di pedesaan.

“Bank Sampah adalah lembaga yang dibutuhkan untuk pengelolaan sampah. Dan pada prinsipnya kunci keberhasilan kelembagaan bank sampah ini harus didukung partisipasi seluruh masyarakat di desa,” ungkapnya.

Bank Sampah diharapkan dapat menjadi ujung tombak pengelolaan sampah di pedesaan. Menurutnya kebutuhan sarana dan prasarana bank sampah bisa dianggarkan secara mandiri melalui anggaran desa dan dana desa. Agar pengelolaan sampah ke depan bisa benar-benar dilaksanakan menuju masyarakat yang bersih, asri dan lestari.

Berdasarkan pantauan DLH Pemkab Blitar, sampah di pedesaan mayoritas didominasi sampah organik. Namun demikian, volume sampah plastik dari hari ke hari ada indikasi meningkat. Sehingga sampah di pedesaan benar-benar harus dikendalikan.

“Data kami untuk pedesaan 70 sampah itu adalah sampah organik. Untuk pengelolaanya, sampah organik bisa dikompos dengan dimasukkan ke dalam joglangan atau membuat lubang resapan biopori. Sementara sisanya sampah plastic yang 20% bisa dibawa ke Bank Sampah. Sedangkan residu 10% yang tidak ada nilainya ini akan dibawa ke TPS dan TPA,” sambungnya.

Peserta dari empat desa sangat antusias mengikuti Bimtek yang digelar kali ini. Mereka menyimak secara seksama materi yang disampaikan narasumber.

Sujiman, pegiat lingkungan dari Kediri selaku narasumber mengajak seluruh masyarakat untuk ikut andil dalam pengelolaan sampah. Menurutnya persoalan sampah dan pengelolaannya kini menjadi masalah yang kian mendesak di Indonesia. Oleh sebab itu, jika tidak dilakukan penanganan yang baik, maka akan mengakibatkan terjadinya perubahan keseimbangan lingkungan.

"Yang tentunya akan merugikan sehingga dapat mencemari lingkungan baik tanah, air dan udara. Oleh karena itu untuk mengatasi masalah pencemaran tersebut diperlukan penanganan dan pengendalian terhadap sampah," ungkap Sujiman.

Sujiman yang dalam Bimtek ini menyampaikan materi Kelembagaan dan Penguatan Bank Sampah, menegaskan kelembagaan Bank Sampah harus diperkuat agar sampah memiliki daya guna dan nilai ekonomis. Selain mengelola sampah daur ulang melalui Bank sampah, harus dipikirkan pula pengelolaan sampah organik untuk keseimbangan ekosistem lingkungan kedepan.

“Sampah itu bukan hanya sampah anorganik, tapi juga organik. Sampah organik ini bisa dikelola dengan mudah, contohnya bagaimanakah daun-daun dikelola dengan mudah, bagaimanakah blendrang dikelola dengan mudah dan bagaimanakah sampah dari dapur dikelola dengan mudah,” paparnya.

Ditegaskan, pengelolaan sampah organik ini bisa dilakukan dengan kearifan lokal. Salah satunya dengan membuat joglangan.

 “Joglangan ini luar biasa, tapi kita ingatkan jangan semua sampah dimasukkan. Jangan dimasukkan batrei HP, jangan ada pecahan neon. Yang dimasukkan itu hanya sampah-sampah organik. Yang kedua kita bisa membuat lubang resapan biopori, lubang ini di satu sisi kalau hujan bisa menyimpan air, di satu sisi bisa untuk pengomposan,” pungkasnya.(kmf)

 

 

 

 

 

 

Pewarta : Aunur Rofiq
Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher : Sandi Alam
Sumber : Blitar TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]blitartimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]blitartimes.com | marketing[at]blitartimes.com
Top