Teliti Dunia Perblantikan, Mahasiswa Unisba Blitar Temukan Dua Metode Blantik dalam Jual Beli Hewan

Wakil Rektor III Unisba Blitar Hery Suprayitno bersama tiga mahasiswa Akuntansi yang meneliti perblantikan hewan.(Foto : Aunur Rofiq/BlitarTIMES)
Wakil Rektor III Unisba Blitar Hery Suprayitno bersama tiga mahasiswa Akuntansi yang meneliti perblantikan hewan.(Foto : Aunur Rofiq/BlitarTIMES)

BLITARTIMES – Pasar hewan adalah salah satu pilar utama dalam menggerakkan bisnis sapi lokal peternak rakyat. Perputaran sapi, kambing dan unggas di pasar hewan bisa mencapai ratusan ekor sehari dengan nilai milyaran rupiah setiap hari pasaran.

Berbagai macam cara digunakan pedagang untuk menarik pembeli agar mau membeli hewan dagangan yang dibawanya dengan harga tinggi. Untuk para pembeli baik itu jagal maupun pemain lokal yang sudah berpengalaman tentunya tidak akan tertipu dengan berbagai trik dari blantik tersebut. 

Pengalaman bertahun-tahun bisnis hewan menjadikan para pemain khususnya sapi dan kambing hafal diluar kepala terhadap akal-akalan blantik. Namun tidak bagi orang awam, karena kurangnya pengalaman seringkali mereka tertipu ulah akal-akalan blantik.

Fenomena tersebut menarik perhatian sejumlah mahasiswa  Akuntansi Universitas Islam Balitar (Unisba) Blitar. Guna memecahkan fenomena tersebut mahasiswa membuat penelitian sosial humaniora di Pasar Dimoro Kota Blitar. Penelitian dengan judul ‘Strategi Blantik dalam Metode Pemasaran di Pasar Hewan Tradisional Dimoro Blitar’dibuat oleh tiga mahasiswa yakni Rega Wulandari, Dicky Setiawan, dan Nurul Laili Adha.

Hasil penelitian berbentuk jurnal tersebut mengikuti lomba Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Kemenristekdikti. Di proses tahap awal berhasil lolos dan saat ini tengah proses seleksi lomba jurnal penelitian Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan sasaran blantik hewan di Pasar Dimoro.

“Penelitian kami lakukan selama 3 bulan dan menghasilkan dua metode. Yakni metode mengompori dan metode powel,” ungkap Rega Wulandari kepada BLITARTIMES, Kamis (18/7/2019).

Dijelaskan, berdasarkan penelitian para blantik paling banyak menggunakan metode mengompori untuk menarik perhatian calon pembeli. Mengompori adalah teknik blantik dalam memanas-manasi untuk meyakinkan calon pembeli agar mau membeli sapi, kambing atau unggas yang dijual para pembeli.

“Kebanyakan yang terkecoh adalah masyarakat awam yang tidak paham tentang jual beli hewan. Kalau jagal jarang terkecoh, kebanyakan sudah paham. Prosentasenya 65 persen tidak tahu tentang hewan, kebanyakan orang terkecoh. Dan tidak sedikit orang yang membeli hewan namun hewan yang dibeli hasilnya tidak sesuai, tidak bagus seperti yang dikatakan blantik,” paparnya.

Menurut Rega, keuntungan blantik ini cukup lumayan dari segi ekonomi. Untuk sapi, keuntungan bisa mencapai Rp 2 jutaan untuk satu ekor. Sementara untuk kambing keuntungan berkisar Rp 1 jutaan untuk satu ekor. 

“Terkadang keuntungan itu dibagi dengan kelompoknya. Anggotanya untuk sapi bisa 2 hingga 4 orang, karena mengompori orang itu susah, mereka mengompori calon pembeli secara bekelompok agar sukses,” terangnya.

Lanjut Rega dan teman-teman kelompoknya berharap hasil penelitian ini bisa memberikan manfaat kepada masyarakat. Hasil penelitian yang disampaikan dapat menjadi warning agar masyarakat berhati-hati saat bertransaksi di pasar hewan.

“Tidak sedikit blantik yang berpura-pura menjadi pembeli, supaya bisa mendapatkan keuntungan yang banyak,” sambungnya.

Jurnal penelitian yang ditulis tiga mahasiswa akuntansi tersebut mendapat apresiasi dari Rektorat Unisba Blitar. Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan,  Hery Suprayitno menegaskan pihaknya tidak henti-hentinya mendorong mahasiswa untuk berprestasi, termasuk di bidang jurnal akademis.

“Hasil penelitian ini sangat penting dan menjadi sumbangan perguruan tinggi untuk masyarakat. Selain dosen, mahasiswa juga kita dorong untuk menghasilkan penelitian untuk pembangunan sosial kemasyarakatan. Tujuannya untuk menciptakan masyarakat yang berkualitas dan berdaya saing,” ungkap Hery.

Hery menambahkan, penulisan karya ilmiah di kalangan mahasiswa akan terus didorong oleh pihak kampus.Dalam ajang lomba Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Unisba Blitar mengirimkan puluhan naskah jurnal penelitian. Namun hanya satu jurnal dari mahasiswa Akuntansi yang masuk seleksi nasional.

“Kami akan lebih keras lagi memacu mahasiswa menghasilkan jurnal penelitian. Menulis adalah salah satu kunci untuk berprestasi,” pungkasnya.(*)

Pewarta : Aunur Rofiq
Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher : Sandi Alam
Sumber : Blitar TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]blitartimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]blitartimes.com | marketing[at]blitartimes.com
Top