Paguyuban Tosan Aji Panji Patria Edukasi Masyarakat Tentang Keris.(Foto : Malik Naharul/BlitarTIMES)

Paguyuban Tosan Aji Panji Patria Edukasi Masyarakat Tentang Keris.(Foto : Malik Naharul/BlitarTIMES)


Editor

Heryanto


Setiap pasaran Jumat Legi, sejumlah komunitas pencinta keris Paguyuban Tosan Aji Panji Patria dan penggemar benda pusaka dari berbagai daerah berkumpul di Kawasan Pusat Informasi Pariwisata dan Perdagangan (PIPP) Blitar. 

Dengan menggelar lapak-lapak kecil berisi sejumlah pusaka keris dan tosan aji dari berbagai bentuk dan zaman pembuatan.

Keris merupakan mahakarya luar biasa peninggalan budaya asli nusantara yang diwariskan sejak zaman nenek moyang. 

Untuk membuat sebilah keris, empu keris menggunakan kemampuan cipta, rasa dan karsa mereka untuk melahirkan sebilah keris pusaka.

Keris adalah senjata tikam yang dibuat sedemikian rupa dengan menempa besi, baja dan bahan pamor atau meteorid sehingga menjadi sebuah pusaka. 

Maka tidak heran jika UNESCO mengakui keris sebagai warisan budaya dunia asli Indonesia pada tahun 2005 sialam.

Ketua Paguyuban Pusaka Tosan Aji Patria Blitar, Rafiq Kamarogan (45) mengatakan, selain menggelar pameran pusaka keris dan tosan aji, kegiatan ini merupakan ajang sharing dan tukar pemikiran akan filosofi keris sekaligus untuk memper erat tali silaturahmi para komunitas pencinta keris dari berbagai daerah.

“Semua anggota Paguyuban Tosan Aji Patria bisanya kumpul disini setiap Jumat Legi, ada juga yang dari malang, kediri, tulungagung, jember, bondowoso, wonogiri, ponorogo  ada yang dari jawa tengah dan daerah-daerah lain juga. Jadi mulai sehabis jumatan samapi nanti malam jam 10 itu pada berdatangan,” kata Rafiq saat ditemui BLITARTIMES di PIPP Blitar beberapa waktu lalu. 

Ia menambahkan, kegiatan komunitas pencinta keris ini adalah wujud mencintai dan melestarikan warisan budaya asli Indonesia. Serta mengedukasi masyarakat luas tentang filosofi keris sebagai khasanah budaya bangsa yang harus harus dijaga dan dilestarikan kebudayaannya.
 

Menurutnya, sebagai senjata tradisional asli Indonesia, keris adalah warisan budaya yang istimewa. 

Keris bukan hanya dilihat dari sisi magisnya saja, akan tetapi lebih kepada sebuah benda seni yang bernilai tinggi. 

Keindahan bentuk, kualitas bahan dan proses pembuatannya yang membutuhkan ketekunan dan keahlian tingkat tinggi membuat keris semakin istimewa.
 

“Belajar dari keris, sederhananya paling tidak kita belajar tentang tata krama, sopan santun, ilmu logam dan juga sejarah. Setiap dhapur (penamaan ragam bentuk dan tipe keris) tangguh (perkiraan zaman) pamor dan rincikan (bagian-bagian pada bliah keris) memiliki nama dan makna filosofis yang mengajari kita tentang kehidupan,” jelas pria yang akrab disapa Cak Rafiq tersebut.

Selain itu, dalam pameran tersebut, keris yang dipamerkan memiliki harga yang bervariatif. Tergantung dari jenis tangguh, dhapur, pamor dan keistimewaan pusaka itu sendiri.

“Ya selain dijual, mungkin ada orang yang tidak tau datang kesini bisa tanya, bisa pegang, kita jelaskan ini keris apa, dhapur apa, jenis apa. Mungkin ada yang keris sepuh dari abad ke berapa ada juga yang keris kamardikan, kita jelaskan semua secara ilmiah, secara estetika, bukan mistisnya. Jadi masyarakat jangan gampang salah paham kalua keris itu selalu berbau mistis dan klenik,” pungkasnya.(*)


End of content

No more pages to load