Launching Tembakau Khas Blitar, Pemkab Blitar Contoh Jawa Barat

Rombongan Dinas Pertanian Kabupaten Blitar dan petani tembakau saat kunjungan ke Balai Pengembangan dan Produksi Benih Pertanian Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat.(Foto : Aunur Rofiq/BlitarTIMES)
Rombongan Dinas Pertanian Kabupaten Blitar dan petani tembakau saat kunjungan ke Balai Pengembangan dan Produksi Benih Pertanian Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat.(Foto : Aunur Rofiq/BlitarTIMES)

BLITARTIMES – Pernah menjadi salah satu daerah penghasil tembakau terbaik di Indonesia dengan produknya tembakau Selopuro, Kabupaten Blitar melalui pemerintah daerah terus berupaya mendorong kebangkitan kejayaan tembakau lokal dengan serangkaian penelitian. Rencananya, varietas tembakau khas  Blitar akan dilaunching pada tahun 2021 mendatang.

Beragam persiapan pun dilakukan menjelang launching varietas tembakau khas Blitar. salah satunya Pemkab Blitar melalui Dinas Pertanian dan Pangan melaksanakan kunjungan lapang ke Balai Pengembangan dan Produksi Benih Pertanian Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat, Jumat (9/8/2019). 

Dalam kunjungan ini, rombongan Dinas Pertanian yang dipimpin Sekretaris Cuk Widatmuko bersama petani tembakau dari Kecamatan Selopuro dan Kelurahan Kamulan Kecamatan Talun belajar tahap-tahap dan kiat sukses pemulihan varietas tembakau lokal.

Kabid Pengembangan SDM Dinas Pertanian dan Pangan Pemkab Blitar, Himawan Priambodo mengatakan ada 5 varietas tembakau lokal yang dimurnikan dan akan dilaunching pada taun 2021 mendatang. Yakni masing-masing tembakau jahe emprit, kenanga, kedulalang, kedu mancung dan kali turi.

“Harapannya setelah varietas nanti termurnikan, potensi-potensi dari tanaman yang selama ini belum muncul akan muncul. Kalau sudah bisa muncul berarti nanti harga jualnya (tembakau) akan meningkat. Seperti yang kita kunjungi di Sumedang dan Majalengka kemarin. Tembakau lokal di sana sebelumnya harga di kisaran Rp 30 ribu. Tetapi setelah dimurnikan, potensi-potensi yang tersembunyi bisa muncul akhirnya harganya bisa naik menjadi Rp 60 ribu,” ungkap Himawan.

Dengan dilaunchingnya tembakau khas Blitar dan studi lapang, diharapkan nantinya petani Kabupaten Blitar bisa memiliki produk tembakau yang merupakan land mark nya Kabupaten Blitar. Hal ini akan menarik bagi pecinta kretek yang datang ke Blitar untuk berburu tembakau yang hanya ada di Blitar.

“Jawa Barat berhasil melaunching 11 varietas tembakau lokal yang dimurnikan. Dari kunjungan ini kami ingin belajar bagaimana 11 varietas itu bisa lolos. Kami ingin belajar bagaimana mekanismenya, agar 5 varietas yang kita ajukan bisa lolos semua,” tandasnya.

Sementara itu Dudung Ahmad Suganda selaku Kepala Balai Pengembangan dan Produksi Benih Pertanian Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat, menyampaikan varietas tembakau lokal pemurniannya harus melalui serangkaian penelitian agar setelah dilepas nanti manfaatnya bisa dirasakan oleh masyarakat. 

Berkat kerja keras, Jawa Barat saat ini telah melepas 11 varietas tembakau lokal yang dimurnikan yakni tembakau sano, kenceh, hanjuang dari Sumedang. Kemudian tembakau citrasari, kubangsari dan sigalih dari Majalengka. Dan tembakau tegar A1, tegar A2, tegar D1, tegar D2 dan tegar J varietas Mole dari Garut.

“Memang untuk melepas varietas itu tidak mudah. Butuh modal, butuh keseriusan pemda dan petani. Dan itu tidak bisa setahun anggaran. Di Jawa Barat, kami memulainya sejak tahun anggaran 2015 dan baru dilaunching setahun kemarin di tahun 2018. Kita melakukan pemurnian, karena di petani dulu varietasnya campur-campur, sekarang kira seragamkan varietasnya. Dengan pertumbuhan seragam, otomatis produktivitasnya juga tinggi dan kualitasnya akan bagus dan harganya mahal,” paparnya.

Ditegaskannya, dalam pemurnian varietas Pemprov Jabar benar-benar hadir mengawal dan membina. Imbasnya, kini para petani yang datang kepada pemerintah untuk ikut menyukseskan dan membudidayakan varietas tembakau lokal.

”Kita bersahabat dengan petani tembakau sekarang dan hasilnya benar-benar dirasakan oleh mereka (petani),” kata dia.

Lanjut Dudung menyampaikan, potensi tembakau di Jawa Barat sangat luar biasa. Sentral tembakau Jawa Barat ada di Majalengka, Sumedang, Garut, Bandung, Bandung Barat, Tasikmalaya dan Pangandaran.

"Di kabupaten lain ada tapi kecil-kecil. Dan Kabupaten Blitar tepat sekali studi lapang kesini (Jawa Barat), berkunjung ke Majalengka dan Sumedang. Di Sumedang itu ada terminal agribisnis tembakau, jadi tembakau-tembakau lokal dan daerah lain dijemur di situ dan dijual,” tegasnya.

Disamping pembinaan, kesuksesan Jawa Barat mengembangkan produktivitas tembakau lokal tak lepas dari seringnya digelar event-event yang mengumpulkan para petani tembakau. Seperti ulang tahun perkebunan, event HUT RI, event ulang tahun Jabar dan lainnya.

“Intinya dorongan itu awalnya dari petani. Petani harus terbuka ke kita, permasalahan dan problem yang dihadapi. Dan kita harus respon, kebetulan kalau di kita permasalahannya di benih. Benih tidak seragam, nyampur-nyampur ditanam akhirnya hasil tidak bagus. Setelah kita seragamkan, hasilnya luar biasa. Setelah bagus kita kawal mulai pembenihan hingga pasca panen. Kita juga respon pengennya pasar seperti apa, ternyata pasar pinginnya tembakau yang mulus, tidak terserang hama penyakit,” pungkasnya.(kmf)

 

Pewarta : Aunur Rofiq
Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Blitar TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]blitartimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]blitartimes.com | marketing[at]blitartimes.com
Top