Melihat Lebih Dekat Tradisi Perayaan Idul Kurban di Pondok Pesantren Tertua di Blitar

Suasana penyembelihan hewan kurban di Ponpes Nurul Huda Kuningan.(Foto : Malik Naharul/BlitarTIMES)
Suasana penyembelihan hewan kurban di Ponpes Nurul Huda Kuningan.(Foto : Malik Naharul/BlitarTIMES)

BLITARTIMES – Idhul Adha atau Hari Raya Kurban merupakan salah satu momen yang ditunggu-tunggu, terutama bagi umat Islam. Momen Idul Adha ini adalah simbol ketakwaan dan kecintaan umat Islam dalam meneladani ajaran Nabi Ibrahim AS.

Diawali dengan sholat Idul Adha, selanjutnya umat muslim beramai-ramai menyembelih hewan kurban. Begitu pula suasana hari raya Idul Adha terasa semarak di lingkungan Pondok Pesantren Nurul Huda di Desa Kuningan, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar atau lebih dikenal dengan Pondok Kuningan Syech Abu Hasan dan Abu Manshur.

Dikenal sebagai salah satu pondok pesantren tertua di Blitar, yakni berdiri sejak tahun 1800 an, tentu banyak tradisi-tradisi salafi yang masih dilestarikan, salah satunya tradisi dalam menyambut Hari Raya Idul Adha.

Tak seperti hari-hari biasanya, tradisi di pondok pesantren ini sudah terasa sejak beberapa hari menjelang Idul Adha. Terutama dengan ramainya peziarah dan para Mudhahhy atau orang yang akan berkurban. "Kalau disini itu sebelum prosesi kurban, Kiai setempat itu ramai didatangi para mudhahhy atau orang yang akan berkurban. Itu mereka banyak berbondong bondong sowan ke Kyai demi mempertanyakan tujuan, niat, syarat dan pelaksanaan kurban," ungkap Imam Mawardi pengurus Pondok Pesantren Nurul Huda saat diwawancarai BLITARTIMES.

Dia menambahkan, kebanyakan para mudhahhy sowan ke Kyai untuk mempertanyakan tata cara kurban mulai dari niat kurban apakah menjadi wajib atau kurban sunnah. Kebanyakan masih banyak yang kurang paham dengan hukum fikih dari kurban itu sendiri maka budaya di pondok pesantren ini sebelum prosesi kurban banyak yang menanyakan hukum kurban tersebut ke Kiai.

"Sebetulnya hukum kurban itu kan sunnah muakadah bagi yang mampu. Namun ketika kurban itu dijadikan nadhar maka hukumnya akan menjadi wajib. Itu yang orang-orang tidak tau dan banyak dipertanyakan ke Kyai, dan itu tiap tahun sudah menjadi tradisi," sambungnya.

Selain itu, di lingkungan Pondok Pesantren Kuningan ini masih menjaga tradisi takbir keliling yang dilaksanakan malam hari menjelang Hari Raya Idul Adha. Diikuti dengan takbir di masjid-masjid lalu pada keesokan harinya disambung dengan ibadah salat Idul Adha dan disusul dengan ambengan lalu dilanjutkan prosesi penyembelihan hewan kurban.

"Kalau di sini malam harinya anak-anak takbir keliling itu sudah tradisi gak pandang Idul Adha atau Idul Fitri.  Dilanjutkan takbir di masjid dan keesokan harinya sholat Ied, lalu ambengan dan dilanjutkan prosesi penyembelihan hewan kurban. Setelah itu para santri biasanya pada bakar sate," pungkasnya.

Sekedar mengingatkan sebagaimana pernah diwartakan BLITARTIMES, Pondok Pesantren Nurul Huda didirikan oleh Syech Abu Hasan. Pondok tersebut hingga saat ini masih berdiri. Begitupun jejak Abu Hasan di tempat tersebut masih bisa ditemui, seperti rumah kediaman Syech Abu Hasan dan pondok model jaman dulu yang berbentuk angkringan.

Meski tidak ada bukti otentik berdirinya Pondok Pesantren Nurul Huda, keluarga besar Syech Abu Hasan meyakini pondok tersebut didirikan sekitar tahun 1800an pasca perang Diponegoro. Syech Abu Hasan sendiri berdasarkan cerita berasal dari Jawa Tengah dan merupakan bekas prajurit Diponegoro yang melarikan diri akibat ia dan kompatriotnya diburu penjajah Belanda.

Setiba di Blitar, Syech Abu Hasan tidak lantas bertempat tinggal di Kuningan. Sebagian besar orang termasuk keluarga meyakini ia pertama kali menginjakkan kaki di Desa Sumberdiren, Kecamatan Garum, Kabupaten Blitar.

“Menurut keyakinan banyak orang, Mbah Abu Hasan datang berdua. Tapi tak diketahui siapa temannya. Di Sumberdiren  Mbah Abu Hasan menikah dengan gadis desa yang kelak dikenal dengan nama Bu Riyah. Karena tidak kerasan disana, setelah menikah Abu Hasan dan istrinya disuruh mencari tempat baru oleh mertuanya. Lalu mereka babat alas dan bertempat tinggal di Desa Kuningan, tempatnya kemudian didirikan Ponpes Nurul Huda,” jelas Muhammad Kirom, keturunan Syech Abu Hasan dari generasi keempat.

Pondok Pesantren Nurul Huda yang didirikan Syech Abu Hasan seiring bertambah tahun kian berkembang. Di masa lalu menurut cerita, banyak tokoh-tokoh besar yang belajar di pondok ini. Salah satunya Wachid Hasyim, mantan Menteri Pendidikan RI dan ayah dari Presiden RI ke 4 KH Aburachman Wahid (Gus Dur)

Puncak kejayaan pondok ini terjadi pada masa penjajahan Jepang. Selain santrinya banyak, pada masa itu santri Ponpes Nurul Huda banyak yang ikut terlibat dalam perang kemerdekaan. Disamping itu, cucu Syech Abu Hasan yakni Kyai Mansyur dari Kalipucung dikenal sebagai tokoh yang mengijazahi bambu runcing perang 10 November di Surabaya.

“Di jaman Jepang, banyak santri pondok ini yang ikut perang dan mati syahid. Di waktu itu juga, pondok ini sering digunakan untuk latihan perang, jejaknya pun masih ada. Kadang orang gali gali di sekitar pondok ini nemu senjata laras panjang, granat dan mortar,” paparnya.

Meski kini santri di Pondok ini tidak banyak, hanya 10 hingga 30 orang, namun Pondok Pesantren Nurul Huda memegang peran penting penyebaran agama Islam di Blitar. Selain melahirkan ulama-ulama hebat,  nyaris seluruh  Pondok Pesantren lain yang ada di Blitar didirikan oleh keturunan dari Syech Abu Hasan.

“Keturunan Mbah Abu Hasan banyak yang kemudian mendirikan Pondok Pesantren. Tak hanya di Blitar, keturunannya ada yang mendirikan Ponpes di Kediri, Malang, hingga Surabaya. Salah satunya Kyai Adib dari Kepanjen mendirikan Ponpes Al Fitroh itu juga keturunan Mbah Abu Hasan,” ucap Kirom.

Syech Abu Hasan wafat dan tidak diketahui pasti tahun meninggalnya, seperti kata Kirom di awal, tidak ada bukti otentik yang berbicara. Jasadnya kemudian disemayamkan di barat Masjid Ponpes Nurul Huda. Ia disemayamkan berdampingan dengan istri, anaknya Abu Mansyur dan menantunya. Hingga kini makamnya banyak dikunjungi orang, baik tokoh maupun para santri.

Apabila anda datang ke tempat ini, anda akan menemukan banyak hal menarik yang hingga kini masih menjadi misteri. Di area dalam pondok ditemukan banyak batu-batu besar mirip batu candi. Di tempat tersebut juga pernah ditemukan koin emas. Juga di atap masjid ditemukan tulisan tahun 1796 dalam tulisan arab. Tiga hal tersebut hingga kini belum berhasil diungkap, bahkan oleh arkeolog sekalipun.(*)

Pewarta : Aunur Rofiq
Editor : A Yahya
Publisher :
Sumber : Blitar TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]blitartimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]blitartimes.com | marketing[at]blitartimes.com
Top