Mahasiswa ISI Surakarta bersama jajaran Pemdes Kemloko.(Foto : Malik Naharul/BlitarTIMES)

Mahasiswa ISI Surakarta bersama jajaran Pemdes Kemloko.(Foto : Malik Naharul/BlitarTIMES)


Editor

Heryanto


Menindak lanjuti nota kesepahaman MoU antara Pemkab Blitar dengan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta Jawa Tengah beberapa waktu lalu, tentang pendayagunaan untuk memajukan potensi seni dan budaya di Kabupaten Blitar, ISI Surakarta untuk pertama kalinya mengirimkan sejumlah utusan mahasiswanya untuk melaksanakan program pengabdian masyarakat Kuliah Kerja Nyata (KKN).

Dengan mengirimkan sejumlah 14 mahasiswa dari beragam jurusan seni, program KKN kali ini sengaja difokuskan untuk pemajuan seni dan budaya di Desa Kemloko, Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar selama 30 hari, terhitung sejak tanggal 23 Juli hingga 28 Agustus 2019 mendatang.

Danang Riyanto selaku Ketua Kordinator Desa Mahasiswa KKN ISI Surakarta mengatakan, dalam program KKN di Desa Kemloko ini kelompoknya membuat beberapa rangkaian program pengabdian masyarakat. 

Dari sejumlah 14 mahasiswa berbagai jurusan seni yang terdiri dari jurusan seni tari, etnomusikologi, seni rupa murni, kriya seni, dan desain interior akan bertugas memberdayakan potensi-potensi seni yang ada di desa Kemloko.

“Awalnya kita berkoordinasi dengan Pemerintah Desa Kemloko dan warga setempat untuk menentukan program pemberdayaan masyarakat yang tepat untuk warga Desa Kemloko. Dari situ, program yang kami tawarkan beraneka ragam, di antaranya meliputi pelatihan kesenian wayang beber, pelatihan batik, mural etnik, tari tradisi, sarasehan budaya dan pengembangan bambu untuk alat musik tradisional dan penguatan desa wisata,” ungkap Danang saat ditemui BLITARTIMES, Kamis (16/08/2019).

Menurutnya, sebagai desa budaya dan juga desa wisata, Desa Kemloko memiliki berbagai potensi wisata dan budaya yang sangat beraneka ragam, diantaranya kesenian budaya Reog Bulkiyo, kesenian tembang ambiyo, wayang kulit, edukasi pengolahan gula jawa, edukasi ikan hias dan juga menawarkan suasana pedesaan yang kental dengan human interest masyarakat pedesaan.

“Dari beberapa program tersebut sangat diperlukan untuk menghidupkan beberapa kesenian lokal yang mati suri, sehingga akan ditumbuh kembangkan lagi melalui KKN budaya ini. Reog Bulkiyo akan dikembangkan lagi dengan melatih anak-anak agar regenerasi seni lokal berlangsung dengan baik, mengingat reog ini menjadi unggulan dan kekhasan desa Kemloko. Keberadaan perajin sungging wayang kulit dan barong di desa ini juga akan dikembangkan dengan bentuk baru yaitu wayang beber,” jelasnya.

Tidak hanya itu, menurut Danang potensi Desa Kemloko juga ditunjang dengan letak geografis yang cukup strategis, yakni terletak di lereng Gunung Kelud sehingga sangat menunjang untuk kegiatan pertanian. 

Selain itu, letaknya yang masih berdekatan dengan Candi Penataran menjadi peluang besar untuk pengembangan wisata di desa ini.

Sementara itu, Kepala Desa Kemloko Mohammad Dhofir mengatakan, Dalam kegiatan KKN di Desa Kemloko ini pihaknya menargetkan beberapa budaya kesenian khas Desa Kemloko yang kurang mendapat perhatian warga setempat akan kembali diminati, terutama para generasi muda.

“Dengan dikemas dalam program pengabdian lewat temen-temen KKN ISI Surakarta ini diharapkan bisa selaras dengan pengembangan budaya di Desa Wisata Kemloko yang telah dirintis oleh Pokdarwis. Harapannya, program-program penguatan seni budaya bisa terserap dan bermanfaat bagi masyarakat setempat,” tandasknya.(*)


End of content

No more pages to load