Rangga Bisma Aditya

Rangga Bisma Aditya


Editor

Heryanto


Memaknai kemerdekaan Indonesia ke-74 dengan Tema SDM Unggul, Indonesia Maju sudah seharusnya menjadi kewajiban bagi para pemuda yang kelak menjadi generasi penerus bangsa untuk mengisi perjuangan dengan hal positif. 

Tidak terkecuali bagi Komisioner KPU Kota Blitar Termuda periode 2019-2024, yang membidangi Divisi Sosialisasi, Pendidikan Pemilih, Partisipasi Masyarakat, dan SDM, Rangga Bisma Aditya.

Menurut Rangga, sebagai Pemuda Memaknai Kemerdekaan Indonesia adalah dengan karya dan kerja nyata. 

Siap sedia setiap saat jika Negara memanggil untuk mengabdikan tenaga, pikiran, gagasan, hingga jiwa raga untuk kemajuan Indonesia tanpa menghitung apakah kita untung atau rugi. 

Seperti Kata Pepatah Sansekerta, Karmanye Vadikaraste Ma Phalesu Kadatjana. Kerjakan Tugasmu (untuk bangsa dan negara-red) tanpa menghitung Untung Ruginya."

Pemuda yang juga Mantan Ketua Umum GMNI Jawa Timur yang telah malang melintang menjadi pegiat di bidang Literasi, Budaya, Seni, Sosial, Pendidikan, Politik, Riset, hingga Olah Raga tersebut menambahkan pentingnya membangun narasi positif pasca Pidato Kenegaraan HUT Republik Indonesia oleh Presiden Jokowi di depan Sidang Umum DPD RI dan DPR RI, Jumat (16/8/2019).

"Narasi positif tersebut dikhususkan dalam menghadapi era disrupsi dimana pola komunikasi dan interaksi yang semakin mudah dan terbuka harus dimanfaatkan dan sekaligus diwaspadai," tegas Rangga yang juga merupakan alumni Jurusan Sosiologi Universitas Airlangga ini.

Menurut Rangga yang juga Mantan Sekretaris Umum Dewan Kesenian Jawa Timur ini, kemudahan arus komunikasi dan interaksi tidak hanya membawa optimisme bangsa untuk maju. 

Lebih dari itu, kemudahan tersebut bisa saja menjadi ancaman terhadap ideologi Pancasila, ancaman terhadap adab sopan santun bangsa Indonesia, ancaman terhadap tradisi dan seni budaya, serta ancaman terhadap warisan kearifan-kearifan lokal bangsa Indonesia.

“Untuk itulah, diperlukan narasi-narasi positif yang dikhususkan untuk pemuda Indonesia seperti pikiran-pikiran kreatif dan inovatif serta keberanian dalam mengambil tindakan untuk merangkai ekosistem kebangsaan dan ketatanegaraan Indonesia,” tegas dia.

Tentunya lanjut dia, semangat tersebut harus dilandasi semangat pembangunan karakter yang toleran, berakhlak mulia, memiliki kemauan untuk belajar, siap bekerja keras, hingga memiliki dedikasi yang tinggi dalam pembangunan berkelanjutan dan dalam rangka melakukan ekspansi produk lokal menjadi produk global.

"Momentumnya sudah tepat ketika pada tahun 2020 hingga 2024, bonus demografi Indonesia berada pada puncaknya. Sehingga perlu kiranya pemuda Indonesia untuk mengembangkan kualitas SDM dengan menggunakan cara-cara baru yang progresif dalam menghadapi tantangan zamam," ungkap Rangga yang juga pernah menjadi Kepala Sekolah PKBM Tunas Pratama Kota Blitar.

Ditegaskan, kuncinya pemuda Indonesia, jangan takut gagal, jangan takut untuk belajar mulai dari nol. 

Pemuda Indonesia harus berani mengambil resiko, seperti para pejuang kemerdekaan yang berani mempertaruhkan nyawa untuk melihat anak cucunya kelak bebas dari belenggu kolonialisme.

"Mau tidak mau, mulai saat ini kita sebagai pemuda harus melangkah, berproses menuju hasil yang optimal. Karena pemuda saat ini adalah bagian dari generasi 100 tahun Indonesia Merdeka. Dimana kelak pada tahun 2045, para pemudi-pemuda Indonesia yang saat ini ada dan menjadi bagian dari bonus demokrasi, akan melanjutkan estafet kepemimpinan nasional," pungkasnya.(*)


End of content

No more pages to load