Para petani Blitar dan Dispertapa melihat langsung lahan pertanian tembakau di Bondowoso.(Foto : Aunur Rofiq/BlitarTIMES)

Para petani Blitar dan Dispertapa melihat langsung lahan pertanian tembakau di Bondowoso.(Foto : Aunur Rofiq/BlitarTIMES)


Editor

A Yahya


Sudah bukan rahasia lagi Jawa Timur adalah penghasil tembakau terbesar di Indonesia selain Jawa Tengah dan Nusa Tenggara Barat (NTB). Provinsi Jawa Timur juga menghasilkan banyak jenis tembakau mulai dari Virginia FC, rajangan tembakau burley, dan tembakau NO untuk cerutu.

Salah satu daerah penghasil tembakau rajangan terbaik di Jawa Timur adalah Kabupaten Bondowoso. Ya, selain dikenal sebagai  Republik Kopi, daerah tapal kuda ini selama berabad-abad dikenal sebagai produsen terbaik tembakau rajangan.

Sebagai salah satu kabupaten dengan potensi tembakau yang besar di Jawa Timur, Bondowoso memiliki luas areal tanaman tembakau mencapai 7000 ribu hektare lebih yang tersebar di 22 kecamatan. Dalam meningkatkan kualitas tembakau, Pemkab Bondowoso melalui Dishutbun setiap tahun rutin menyiapkan anggaran yang berasal dari Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT). Anggaran tersebut digunakan untuk peningkatan budidaya, pemberian bantuan alat, serta penyediaan pupuk bagi petani tembakau.

Tercatat saat ini Bondowoso telah memiliki varietas tembakau dengan kualitas tinggi yaitu varietas Maesan 1 dan Maesan 2. Varietas ini telah melalui berbagai macam uji coba oleh Balitas malang, sebelum diresmikan sebagai varietas tembakau khas Bondowoso. Dewasa ini, produksi tembakau di Bondowoso mengalami peningkatan salah satunya berkat budidaya pertanian organik. ment

Potensi luar biasa Kabupaten Bondowoso di sektor pertanian tembakau mendorong Pemkab Blitar melalui Dinas Pertanian dan Pangan melaksanakan studi banding di daerah tapal kuda ini dengan mengajak serta 40 petani tembakau dari beberapa desa, Senin (19/8/2019). Studi lapang dipusatkan di Desa Karang Melok, Kecamatan Tamanan, Kabupaten Blitar. Kabid Pengembangan SDM Dinas Pertanian dan Pangan Pemkab Blitar, Himawan Prabowo mengatakan studi lapang ini merupakan kelanjutan dari sosialisasi dan pelatihan budidaya tembakau organik yang dilaksanakan Dinas Pertanian dan Pangan beberapa waktu lalu. Hasil studi lapang ini akan diterapkan di Kabupaten Blitar.

“Hari ini petani kita ajak melihat langsung kondisi tanaman yang menggunakan pupuk organik, pestisida organik. Dalam kunjungan ini petani kita bawa langsung ke lapangan untuk melihat perbedaan tanaman tembakau yang 100% menggunakan kimia dan tembakau hasil budidaya organik. Agar petani tahu secara fisik perbedaanya, petani kita suruh pegang-pegang biar tahu bedanya. Hasilnya terlihat secara fisik sangat berbeda, tembakau organik tanamanya lebih kokoh dan hasil panennya lebih banyak,” ungkap Himawan.

Dalam kunjungan ke Bondowoso ini para petani dari Blitar juga mendapat paparan langsung dari kelompok tani Desa Karang Melok mengenai pertanian tembakau melalui budi daya organik. Kebetulan, kelompok tani yang dikunjungi di Bondowoso juga menjadi tempat Pusat Pelatihan Pertanian Pedesaan Swadaya (P4S) dengan salah satu objek pembelajarannya pertanian tembakau. Banyak ilmu yang didapat petani Blitar, diantaranya proses pembuatan pestisida nabati, proses pembuatan pupuk organik, serta bagaimana cara memperoleh bahan-bahannya.

“Dari studi lapang ini para petani tidak hanya melihat hasil pertanian tembakau organik, tapi mereka (petani) juga melihat proses organik itu seperti apa, cara membuat pestisida nabati hingga bahan-bahanya,” jelasnya.

Sementara itu Sekretaris Dinas Pertanian Pemkab Bondowoso Sujoko mengatakan, sama seperti Kabupaten Blitar Pemkab Bondowoso terus mendorong kemajuan  daerahnya melalui Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT). Tahun ini Pemkab Bondowoso memperoleh DBHCHT senilai Rp 25 Miliyar, Rp 5 Miliyar diantaranya dialokasikan untuk Dinas Pertanian dan digunakan untuk pemberdayaan sektor pertanian tembakau dan peternakan.

“Melalui DBHCHT, kami sudah lama memperkenalkan petani dan mendorong pertanian tembakau untuk organik. Hasilnya sudah dirasakan petani, hasil panennya meningkat. Tapi perilu diketahui, untuk tembakau tidak bisa 100% organik, tapi semi organik. Dengan semi Organik ini hasil produksi lebih tinggi,” paparnya.

Dijelaskannya, lahan tembakau di Kabupaten Bondowoso seluas 7000 hektar digunakan untuk budidaya tembakau rajangan dan kasturi. Sementara proses budidaya pertanian tembakau organik sendiri telah dirintis lama sejak tahun 2012.”Kami dari dinas terus mendampingi dan mengarahkan petani untuk bertani organik. Karena CN Rasio tanah di Bondowoso ini masih di bawah 2. Dan terbukti, lambat laun dengan bertani organik, CN Rasio tanah di lahan pertanian Bondowoso meningkat diatas 2,” paparnya.

Ketua Kelompok Tani Desa Karang  Melok, Buharto mengatakan budidaya tembakau di desanya maju pesat setelah penerapan pertanian organik. Ada 2 material alam yang digunakan untuk pupuk organik di kelompoknya, yakni pupuk kandang dan kencing sapi.”Organik itu kembali ke alam, selain efisiensi juga mempercepat pertumbuhan. Terbukti setelah penggunaan organik produksi tembakau kami naik hingga 40%,” pungkasnya.(kmf)

 


End of content

No more pages to load