Ceramah UAS memantik protes dan laporan kepada kepolisian. (Ist)

Ceramah UAS memantik protes dan laporan kepada kepolisian. (Ist)



Pernyataan Ustad Abdul Somad (UAS) terkait palang salib yang viral beberapa hari ini terus mendapat komentar dari berbagai pihak. Tak terkecuali dari para pendeta yang terlihat terbelah menanggapi hal tersebut. Di satu sisi ada yang membenarkan apa yang disampaikan UAS, seperti yang disampaikan pendeta Hendri Tandianta dalam videonya, dan di sisi lain, protes keras juga lahir dari pendeta lainnya, yaitu Esra Alfred Soru.

Keduanya sama-sama merilis pernyataannya di video yang beredar di YouTube. Tentunya dengan pernyataan yang berbeda. Pendeta Esra Alfred Soru menyayangkan isi ceramah UAS yang dianggapnya melakukan penghinaan atas simbol-simbol Kristen.

Penghinaan tersebut, menurut Esra, pertama terkait pernyataan di balik patung salib itu ada jin kafir atau setan. Kedua, patung salib itu dapat meng-kafir-kan atau dipakai untuk meng-kafir-kan umat Islam. Dan ketiga, ada upaya untuk meng-kafir-kan umat Islam melalui lambang salib. Bahkan ketika umat Islam  sudah mati pun, ada upaya meng-kafir-kan dengan dimuat dalam ambulans yang ada lambang salib/kafirnya.

Terakhir, masih kata Esra, umat Islam perlu menutup salib di rumah sakit dan mem-pilox lambang salib di ambulans dan digantinya dengan bulan sabit. "Pernyataan Abdul Somad ini yang menimbulkan reaksi dengan dilaporkannya ke polisi. Ada tiga masalah menurut saya terkait itu," kata Esra dalam videonya.

Pertama, masalah moral terkait pernyataan ada jin kafir di patung salib merupakan penghinaan atas simbol Kristen. "Kedua masalah kebodohon dengan menganggap lambang di ambulans adalah lambang kafir dan ketiga masalah hukum karena dia dianggap melanggar undang-undang mengenai penistaan agama," ujarnya.

Esra juga menegaskan, dari tiga masalah itu, dirinya tidak ingin membahas masalah hukum. Tapi, dirinya mempertanyakan dua masalah terkait moral dan kebodohan. Dia mempertanyakan apakah klarifikasi yang telah dilakukan UAS bisa membebaskan dirinya dari dua masalah tersebut.

"Saya pertegas, apakah dengan gaya yang melecehkan, dan mengatakan jin mengatakan 'haleluya, heleluya' itu menjadi benar karena hanya menjawab pertanyaan," ungkapnya.

Ersa juga menegaskan bahwa logika UAS dipertaruhkan. "Ada banyak kesalahan pikir yang telah dibuatnya. Fakta UAS menghina simbol Kristen tidak bisa dipatahkan. Saya akan beri tantangan kepada Anda untuk membuktikan ada jin di patung salib itu bukan penghinaan," tandasnya.

Tantangan Esra juga mengenai pembuktian UAS terkait lambang di ambulans itu lambang salib atau lambang kafir. "Coba buktikan dengan data yang terpercaya. Jika Anda tidak bisa membuktikan, Anda sedang memamerkan dan mengajarkan kebodohan kepada umat Anda," imbuhnya.

Selain Esra, Komunitas Horas Baso Batak juga melaporkan UAS ke Polda Metro Jaya atas dugaan penistaan agama Kristen dalam ceramahnya, Senin (19/08/2019) kemarin. Hal ini dibenarkan oleh anggota tim hukum Horas Bangso Batak Erwin Situmorang.

Erwin juga mengatakan, meskipun ceramah itu dilakukan di ruang tertutup serta merupakan video tiga tahun lalu, Abdul Somad tak berhak untuk menjelek-jelekan agama lain. 

Berbuntut panjang, Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (PP GMKI) ikut serta melaporkan hal itu ke Badan Reserse Kriminal Markas Besar Polri. Mereka menilai ceramah UAS tersebut merupakan bentuk penistaan agama mereka. 

Terpisah, Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Marsudi Syuhud  akhirnya juga mengomentari ceramah Abdul Somad yang memantik kecaman beberapa pihak dan  dinilai menghina simbol agama Nasrani. Marsudi mengatakan  tak mau mengadili Abdul Somad karena hal itu ada hukumnya sendiri.

 "Tapi, saya mengimbau seluruh ustad dan kiai di Indonesia dapat memberi pelajaran mengenai Piagam Madinah sebagai akhlak dan melaksanakan perilaku yang telah dicontohkan Rasulullah," ucapnya.

Marsudi juga menyampaikan, Islam melarang umatnya mencaci maki orang yang menyembah selain Allah SWT. "Hal ini dilarang karena akan saling bermusuhan dan menjelekkan tanpa ilmu," ujarnya.

Majelis Ulama Islam (MUI) juga ikut mengomentari serta menyampaikan sangat prihatin dan menyesalkan beredarnya video tersebut sehingga menimbulkan polemik yang dapat mengganggu harmoni kehidupan umat beragama di Indonesia. MUI juga mengimbau agar seluruh pihak dapat menahan diri dan menempuh jalur musyawarah dengan mengedepankan semangat kekeluargaan dan persaudaraan.

Tak ketinggalan, Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon juga ikut memberikan pernyataan terkait hal tersebut. Dirinya menganggap tak ada niatan dari UAS untuk mendiskreditkan agama tertentu dalam ceramahnya yang membahas seputar salib.

"Saya kira sejauh bahwa itu merupakan pendapat dan bukan upaya untuk mendiskreditkan, saya kira nggak masalah. Harus kita pahami bahwa sebagai cara orang untuk menyampaikan pesan-pesan keagamaan. Saya kira yang terjadi pada UAS bukan sebuah upaya untuk mendiskreditkan yang lain," ucap Fadli yang juga berharap sama dengan beberapa kalangan bahwa polemik ceramah UAS yang dinilai menghina simbol agama tertentu dapat diselesaikan secara damai.

 


End of content

No more pages to load