Suhendro Winarso dalam sebuah pertunjukan pagelaran wayang (Foto : Malik Naharul/BlitarTIMES)

Suhendro Winarso dalam sebuah pertunjukan pagelaran wayang (Foto : Malik Naharul/BlitarTIMES)



Menjadi seorang dalang dalam pentas kesenian wayang kulit mungkin kurang begitu populer bagi sebagian besar masyarakat. Kendati begitu, bukan berarti profesi sebagai dalang menghambat karir di bidang lain.

Misalnya saja, Suhendro Winarso. Kepala Dinas Pariwisata Budaya Pemuda dan Olahraga Kabupaten Blitar ini juga berprofesi sebagai dalang.

Sosok ramah dan sumeh asal Lingkungan Karanganom, Kelurahan Nglegok, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar ini menyukai dunia kesenian wayang kulit sejak kecil.

Mantap memilih profesi sebagai dalang bukanlah keputusan yang datang secara tiba-tiba. Sebelum memutuskan menjadi dalang pada Januari 2007 lalu dia mengaku telah mencintai dunia pewayangan sejak masih di bangku sekolah dasar.

Lahir dari rahim seorang ibu yang berprofesi sebagai sinden membuat pria yang akrab disapa Hendro ini memiliki darah-darah seniman. Selain itu, paman-pamannya yang juga berprofesi sebagai dalang menjadikan Hendro sangat mencintai dunia pewayangan.

"Meski saya tidak pernah melihat ibuk saya nyinden, karena waktu saya lahir ibuk sudah cukup tua, saya masih ingat saat masih kecil sama ibuk saya dulu suka nonton wayang di televisi tiap malam Minggu. Niat saya ya nemenin ibuk saya melekan itu saja," kenangnya saat diwawancarai BLITARTIMES pada Jumat (23/08/2019).

Pria kelahiran 25 Mei 1976 ini mengaku saking sukanya dengan dunia seni pewayangan, Suhendro muda pernah melewatkan ujian semester ganjil gara-gara tertidur usai menyaksikan pergelaran wayang semalam suntuk. Hal itu terjadi saat menempuh pendidikan kelas II SMAN 1 Blitar, sekitar 1994 silam.

“Saat itu ujian Fisika saya ketiduran. Sebab malamnya ada Ki Anom Suroto di Istana Gebang. Itu pengalaman paling berkesan karena saya saking sukanya lihat wayang," ungkapnya sambil tersenyum.

Kecintaannya pada wayang kulit, membuat dalang dengan nama panggung Ki Suhendro Winarso ini memutuskan belajar dalang setelah kepergian Muyati, ibunda tercintanya, pada Januari 2007 silam.

"Setelah ibuk meninggal, mungkin selang dua minggu saya dipanggil bapak saya mungkin untuk mengobati kesedihan bapak nyuruh saya maen ndalang. Waktu itu alasan bapak saya tetangga tetangga sebelah ini sudah jarang dapat hiburan. Padahal waktu itu saya gak pernah belajar," kenang Hendro.

Kepatuhannya terhadap orangtua tak bisa mengelak perintah bapaknya untuk menjadi dalang. Akhirnya dia belajar dalang ke Ki Dalang Bambang Endro Yuwono, kerabatnya di Ngantru, Tulungagung. Hanya dua bulan menimba ilmu, Suhendro yang mendapatkan buah tangan dua wayang, yakni Setiyaki dan Ratu Sabrang langsung menggelar pentas di rumah orangtuanya, dengan lakon "Wahyu Tunggul Nogo".

"Saya ingat itu bulan Agustus saya tampil jadi dalang istilahnya gebyakan (memperkenalkan diri) yang disaksikan sekitar 40 dalang se-Blitar. Waktu itu bapak meyakinkan saya bahwa saya pasti bisa dan bapak akan melek semalaman," sambungnya.

Meski saat itu dalam segi cekelan wayang masih sangat lemah, Suhendro mengaku sangat menguasai dalam segi lakon yang dibawakannya. Menurutnya lakon lebih mudah dia pelajari karena kebiasaan dalam keluarganya berbahasa jawa dengan baik.

Semenjak pentas gebyakan tersebut, tak jarang Suhendro mendapat permintaan untuk pentas ndalang. Meski saat itu sudah berstatus sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) dengan jabatan kala itu Sekertaris Camat, tak membuatnya kesulitan memainkan lakon-lakon pewayangan.

"Beberapa kali cukup sering dapet permintaan ndalang, gak begitu sering tapi saya rasa itu cukup sering bagi saya sekelas dalang baru untuk meningkatkan jam terbang," terangnya.

Menurutnya meskipun sebagai seorang ASN profesi dalang bukan lah sebuah hambatan. Menurutnya, semua itu bisa dilakukan asalkan bisa membagi waktu. Dia mengungkapkan, dalam sebuah pementasan wayang, berbagai unsur dapat menjadi satu, sehingga menciptakan daya tarik tersendiri.

"Jadi pernah ada pengalaman, waktu itu pas ndalang di Ngeni, baru naik pas enak-enak limbukan itu HP saya ada SMS dari ajudan diminta menghadap Pak Bupati jam 5 pagi tentunya saya berfikir waktu itu pasti penting. Kebetulan waktu itu yogo-yogo itu ada yang bisa ndalang jadi saya suruh menggantikan. Besoknya Pak Kades lapor ke saya ini desanya geger, pokoknya saya disuruh ndalang lagi," ungkapnya.

Saat ini, dengan kesibukan sebagai Kepala Dinas Pariwisata Budaya Pemuda dan Olahraga Kabupaten Blitar jika diminta untuk pentas, Suhendro selalu menawarkan akan membawa dalang dobel. Biasanya sebelumnya memberikan pengertian kepada yang memiliki hajat harus menggunakan dalang dobel, untuk berjaga-jaga bila mendapat panggilan dinas.

"Pekerjaan sebagai ASN itu bukan halangan untuk ndalang, justru melalui tugas sebagai ASN dan dalang, melalui media wayang kita bisa komunikasi," tuntasnya.(*)


End of content

No more pages to load