Joker (Ist)
Joker (Ist)

Arthur Fleck yang diperankan aktor Joaquin Phoenix adalah sosok yang mencari jawaban atas rasa lapar paling kelam manusia. Kesepian, kesakitan, frustrasi begitu dalam, trauma kekerasan masa lalu, serta penolakan bertubi-tubi. 

Jawaban yang dicarinya tak pernah ditemukan dan semakin membenamkannya pada dunia lain bernama chaos. Kekerasan, pembunuhan, dan berbagai tindak yang berlawanan dengan order. Arthur yang badut menjelma menjadi  sosok mengerikan yang dibalut dengan riasan badut. Terlahir dari rasa sakit dan dibesarkan dalam nasib buruk.

Joker Joaquin Phoenix mungkin lebih membuat kita bergidik sekaligus sedih bersamaan dibandingkan dengan sosok Joker lainnya di berbagai film Batman. Mungkin, hanya Joker Heath Ledger yang mampu menandinginya bila dirinya tak meninggal dunia terlebih dahulu setelah menghidupkan sang badut dalam The Dark Night.

Testimoni betapa hidupnya Joker membawa penonton dalam dunia gelapnya sepanjang 122 menit berlahiran. Testimoni yang senada, betapa mengerikannya kehidupan Arthur setelah dirinya utuh menjadi Joker.

Lihatnya pengakuan mereka di media sosial saat Joker menyapa masyarakat dunia. "Aku memilih keluar dari teater, film ini mengancam mental. Boikot film ini," tulis @shonte.

Senada,  @lazuardipratama  menyampaikan, "Nonton joker pikiran jadi ikut stress sepanjang film, kerasa gmana hidupnya arthur didalam film."

@adelaeva juga bersaksi.  "Dan karna joker film psycho jadi ada bbrp scene yg bikin lo gak nyaman. Tapi langsung nyerang kemental. Karna percaya atau gak, gue ngerasa ketakutan selama nonton. Takut kaya ada ancaman bukan takut karna serem," cuitnya.

Joshua Suherman @jojosuherman pun mengalami hal sama setelah menonton Joker. "Bener. Gue cukup gloomy malem itu. Butuh dialihkan biar balik normal. Tp filmnya emg bikin kt jadi sangat gelap," ucapnya.

Penuturan lebih dramatis di share oleh akun Instagram @Adriandhy yang menyampaikan bahwa ada penonton yang sampai tidak bisa bangun dari kursi penontonnya karena efek kejut Joker.

"Ini bisa trigger mental health kita. Aku salah satunya. Jadi aku kan memang ada mental issue dan memang pas nonton ini terasa anxiety aku naik sampai gak tenang nontonnya. In the end, aku g bisa bangun karena badan lemes. Like all my body's trembling and my heart beating very fast. Aku harus nunggu sampe akhirnya pelan-pelan turun dari cinema dengan pegangan entah kursi atau tembok. Ini berasa banget bikin kita sakit," curhatnya.

Berbagai testimoni itu juga tak lepas dari penonton lainnya yang memberikan apresiasi tinggi atas Joker sebagai  sebuah film yang keren. Bahkan, beberapa warganet menyatakan Joker sangat relevan dengan keadaan Indonesia saat ini.

@akbaRazak mengatakan, "Menurut gw film Joker ini relevan dngn keaadan Indonesia saat ini, dimana kebaikan dan kejahatan bisa dimanipulasi, yg terlihat baik di media tetapi aslinya jahat dan yg terlihat jahat di media tetapi aslinya baik. There's no boundaries between good and bad, only point of view."

Joker berfokus pada perjalanan sosok komedian gagal Arthur Fleck, pria yang diabaikan oleh masyarakat dan berubah menjadi penjahat yang sangat keji. Tumbuh dari masyarakat kalangan bawah yang terus gagal untuk meraih kesuksesan dalam profesinya sebagai komedian stand up. Hidupnya kerap dirundung pilu.

Selain itu, pekerjaannya sebagai badut yang bertugas memegang papan penanda di jalanan membuatnya dirundung, bahkan pernah sampai terkapar di sebuah gang. Arthur Fleck tampak terbiasa diperlakukan tak adil oleh lingkungan sekitar. 

Titik terbawah hidup Arthur terjadi saat ia diolok-olok oleh presenter yang diperankan Robert De Niro lewat siaran TV nasional. Begitu banyak kekecewaan yang membuatnya menjadi pribadi pahit dan akhirnya berubah menjadi pembunuh.

Kisah gelap manusia inilah yang benar-benar berhasil ditampilkan dalam Joker. Sampai-sampai negara besar Amerika Serikat melalui Angkatan Darat-nya mengonfirmasi telah mengirim catatan khusus kepada komandan di Fort Sill, Oklahoma, tentang potensi ancaman kekerasan yang ditemukan dalam sebuah forum diskusi di internet. Diskusi itu diduga berbicara soal target penembakan di bioskop.

Salah satu jaringan bioskop di Los Angeles, Landmark, yang membawahi 52 bioskop disebut telah memperpanjang larangan penggunaan topeng dan senjata mainan, termasuk kostum apa pun, saat penayangan Joker. "Kami ingin semua tamu yang datang menikmati Joker sesuai dengan pencapaian sinematiknya. Tetapi tidak boleh ada topeng, wajah yang dilukis atau kostum yang diperbolehkan masuk," ujar Landmark dalam pernyataan resmi.