Warga Desa Mojo Kecamatan Mojo Kabupaten Kediri menggelar tradisi cambuk Tiban untuk mendatangkan hujan. (eko Arif s /JatimTimes)
Warga Desa Mojo Kecamatan Mojo Kabupaten Kediri menggelar tradisi cambuk Tiban untuk mendatangkan hujan. (eko Arif s /JatimTimes)

Musim kemarau yang berkepanjangan menyebabkan kekeringan dan krisis air bersih di berbagai daerah, termasuk di Kediri. Selama ini, masyarakat banyak memanfaatkan air hujan. Misalnya, untuk mengairi persawahan hingga persediaan cadangan air.

Masyarakat pun berharap agar musim hujan segera datang. Salah satu bentuk harapan itu diwujudkan dengan menggelar tradisi meminta hujan. Seperti yang dilakukan warga Dusun Gedangan Desa Mojo, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Ada beberapa tradisi yang dipercaya untuk meminta hujan seperti tradisi Ritual Cambuk Tiban.

Ritual Cambuk Tiban merupakan bagian dari tradisi sejak turun temurun yang tetap terjaga kelestariannya hingga sekarang. Selain ritual tersebut, warga Desa Mojo juga menggelar salat Istisqoh untuk mendatangkan hujan.

" Tiap tahun kalau belum turun hujan, diadakan salat Istiqoh minta hujan. Nanti setelah itu mudah-mudahan dijabahi oleh Allah, karena banyak kekeringan sawah dan ladang," ungkap  Lukman Hakim, tokoh agama setempat.

Menurut Lukman Hakim, kegiatan ini setiap tahun selalu dilaksanakan. Terutama kala musim kemarau berlangsung.

Selesai menggelar salat Istisqoh, kemudian dilanjut dengan pembacaan doa. Ketika pembacaan doa berlangsung, secara bersama-sama para jamaah membalik surban yang mereka bawa di atas punggung.

Lukman menjelaskan jika surban  tersebut sengaja dibalik di sela-sela pembacaan doa. Hal itu menyimbolkan harapan agar Allah secepatnya membalik musim kemarau ke musim hujan.

Uniknya, kegiatan seni ritual ini tidak hanya diikuti pria dewasa, melainkan juga anak-anak. Selesai mengikuti Ritual Cambuk Tiban, peserta kemudian diberi amplop berisi uang.

Peserta ritual itu tidak hanya berasal dari Dusun Gedang, melainkan juga tetangga desa sekitarnya. Mereka secara sukarela datang berbondong bondong untuk meramaikan ritual tradisional Tiban.

Para peserta kesenian budaya Tiban itu, kemudian terlibat saling serang menggunakan cambuk yang terbuat dari lilitan lidi daun aren. Meski saling serang, setelah acara selesai mereka tetap bersahabat. Tidak ada dendam mau pun permusuhan satu sama lain.

Pengalaman dari tahun sebelumnya, biasanya setelah pelaksanaan salat Istisqoh dan ritual Tiban selesai, tidak lama hujan akan turun.

"Turun hujan ada yang langsung setelah selesai pernah. Terkadang jarak 2 jam, 5 jam. Paling lama 5 hari," kata dia.

Lukman menambahkan, imbas musim kemarau yang berkepanjangan ini membuat sumber mata air yang di lereng kaki Gunung Wilis menjadi susut. Ia memperkirakan ada sekitar 400 KK (kepala keluarga) yang terdampak kekeringan saat ini.

"Hampir 8 bulan lebih tidak ada hujan. Padahal, sebelah selatan kota (Kediri) sana sudah turun hujan. Tetapi wilayah Mojo saja yang tidak ada hujan. Dapat air dari sumber, tapi jelas min (kurang). Cukup untuk minum dan memasak saja. Di sini ada sekitar 400 KK lebih," tandasnya.