Hutan Pinus Gogoniti di Desa Kemirigede, Kabupaten Blitar.(Foto : Malik Naharul/BlitarTIMES)
Hutan Pinus Gogoniti di Desa Kemirigede, Kabupaten Blitar.(Foto : Malik Naharul/BlitarTIMES)

Menikmati pemandangan pohon pinus yang rindang dengan segala kesejukannya dapat menjadi salah satu alternatif untuk berwisata atau sekadar menghabiskan waktu luang.

Di Blitar,  salah satu hutan pinus yang menjadi buruan para wisatawan adalah Wisata Hutan Pinus Gogoniti yang terletak di Desa Kemirigede, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Blitar.

Wisata Hutan Pinus Gogoniti ini berlokasi di dataran tinggi lereng Gunung Kawi. Udara sejuk khas pegunungan dipadu dengan banyaknya pohon pinus membuat wisatawan nyaman dan betah berlama-lama di tempat ini.

Sejak dirintis oleh kelompok sadar wisata (pokdarwis) pada awal 2017 lalu, wisata alam Hutan Pinus Gogoniti ini selalu ramai dikunjungi wisatawan, baik dari dalam maupun luar kota.

Dulu, tahun 2015, hutan pinus ini masih dikelola sebagai kebun pakan ternak oleh warga. Namun, karena melihat potensi tempat ini bagus untuk wisata, warga  memasang tulisan selamat datang di hutan pinus Gogoniti. "Itu dulunya belum ada warung dan tempat untuk bersantai. Niat kami mengenalkan dulu kepada masyarakat," ungkap Acen Indrianto, pengelola Hutan Pinus Gogoniti, kepada BLITARTIMES,

Melihat daerah yang memiliki banyak kawasan perbukitan dan hutan belantara yang masih alami, Hutan Pinus Gogoniti sangat berpotensi untuk dijadikan wisata sebagai pengangkat ekonomi masyarakat.

Melihat peluang tersebut, Acen bersama beberapa orang yang peduli dengan hutan pinus tersebut berkordinasi dengan pemerintah desa dan Perhutani untuk mengelolanya menjadi sebuah tempat wisata.

"Awal kami punya rencana untuk membuat tempat wisata itu, saya kebetulan dipilih jadi ketua Lembaga Masyarakat di Kawasan Hutan (LMDH). Dari situ, perlahan kami pindahkan lahan yang dulunya kebun pakan ternak. Sedikit demi sedikit kita pindahkan jadi warung-warung, gazebo kecil," sambungnya.

Wisata Hutan Pinus Gogoniti menyuguhkan keindahan alam hutan pinus dan kesejukan udara di lereng Gunung Gogoniti. Dengan ketinggian sekitar 600 meter di atas permukaan laut, udara di kawasan itu masih terasa dingin.

Untuk memberi rasa nyaman kepada pengunjung, Acen bersama kelompoknya menambahkan fasilitas seperti tempat duduk, spot foto, hammock, gazebo, play ground, dan juga flyingfox.

Begitu masuk kawasan wisata itu, mata pengunjung disambut deretan pohon pinus yang menjulang tinggi. Pengunjung bisa duduk santai sambil menikmati hawa sejuk di bawah rindangnya pohon pinus.

Pengunjung juga bisa berfoto-foto dengan latar keindahan alam. Bagi pengunjung yang ingin menginap, bisa mendirikan tenda di lokasi camping ground.

"Melihat potensi ekonomi di tempat wisata ini, perlahan-lahan warga kompak bergabung. Ada yang jadi investor, pengelola, maupun berjualan di kawasan Hutan Pinus Gogoniti ini," kata Acen.

Semua itu dikelola swadaya oleh masyarakat. Di samping itu, di Desa Kemirigede banyak terdapat sentra UMKM. Kombinasi ini dipadukan dan sukses mengangkat ekonomi warga desa. Kini warga Desa Kemirigede telah merasakan dampak ekonomi dari pengembangan desa wisata.

Untuk menuju ke Gogoniti, rutenya cukup mudah ditempuh. Dari pertigaan barat SPBU Kesamben, menuju utara ke arah Desa Pagerwojo, Desa Tepas, dan kemudian Desa Kemirigede. Cukup seperempat jam saja dari pusat Kecamatan Kesamben.

Jangan lupa wisata ini hanya buka pukul 07.00 sampai 17.30 WIB. Untuk Anda yang akan pergi ke Gumuk Sapu Angin, tidak ada salahnya untuk mampir ke Hutan Pinus Gogoniti karena berada pada satu jalur yang sama apabila Anda berangkat dari Kesamben.

Selain menawarkan keindahan alam, ternyata Gunung Gogoniti juga menyimpan suatu tanda sejarah. Letaknya terletak di puncak bukit.

Warga setempat menyebutnya punden, tempat untuk nyadranan dan bersih desa. Yang dipundenkan adalah tokoh sesepuh desa bernama Eyang Nitikusumo.

Punden yang terletak di puncak bukit itu hanya dapat diakses melaui jalan makadam. Tanjakan dan tikungan yang berkelok-kelok juga menambah tantangan dalam perjalanan ini.

Di dalam punden tersebut terdapat sebuah makam yang dikelilingi empat buah umpak. Uniknya, nisan dari makam tersebut adalah prasasti. Prasasti itulah yang selama ini dikenal dengan nama Prasasti Gogoniti.

Menurut Acen, pada  tahun ketiga berdirinya, wisata Gogoniti ini terus dikembangkan. Meski tidak seramai seperti di awal berdirinya dulu, Wisata Hutan Pinus Gogoniti terus berbenah dan berinovasi.

Saat ini pihaknya tengah membangun akses jalan tembusan untuk mempermudah akses wisatawan. Pengelola juga tengah mengembangkan homestay dengan memanfaatkan potensi rumah-rumah penduduk.

“Saat ini mulai kami rintis homestay dari rumah-rumah penduduk. Jadi, kami sajikan ala pedesaan dengan human interest kehidupan masyarakat desa. Di sini banyak olahan makanan khas masyarakat desa, aktivitas masyarakat pedesaan, budaya dan tradisi masyarakat desa, kerajinan dan masih banyak lagi yang bisa kami jual nantinya. Ini yang tengah kamj siapkan. Harapannya nanti wisatawan bisa menginap dan berlama-lama di Gogoniti. Imbasnya ke perbaikan ekonomi rakyat,” ungkap Acen.