Ilustrasi gerakan stop HIV/AIDS (Ist)
Ilustrasi gerakan stop HIV/AIDS (Ist)

Peringatan Hari AIDS Sedunia tiap 1 Desember menjadi momen pengingat terhadap bahaya infeksi menular seksual (IMS) tersebut. Salah satu permasalahan yang belum tuntas adalah data soal pengidap HIV/AIDS, termasuk di Kabupaten Malang. 

Jejak data terkait pengidap HIV/AIDS di Kabupaten Malang tercatat setiap tahun mengalami peningkatan. Khususnya tiga tahun terakhir, grafik pengidap HIV/AIDS mengalmi kenaikan signifikan. 

Data Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Malang mencatat, tahun 2016 ada sebanyak 1.960 orang pengidap HIV/AIDS. Meningkat  tahun 2017 menjadi 2.247 jiwa dan tahun 2018 kembali melonjak menjadi 2.497 jiwa. 

Bahkan, Ketua KPA Kabupaten Malang Anita menyebut bahwa jumlah penderita HIV/AIDS secara riil lebih besar dari yang terdata. "Ibarat gunung es, yang terdata saat ini adalah pengidap di permukaannya saja. Tapi, dengan adanya peningkatan data itu malah memperlihatkan adanya penanganan HIV/AIDS yang semakin baik," ucapnya, beberapa waktu lalu. 

Kesan sepinya peringatan Hari AIDS Sedunia, bukan berarti gerakan penanganannya juga semakin melempem di Kabupaten Malang. Walau tetap akhirnya berbagai unsur masyarakat peduli HIV/AIDS yang lebih aktif, misalnya dibanding Pemkab Malang yang kini terlihat lebih fokus pada penanganan stunting dan penyakit tidak menular mematikan lainnya.

Pekerjaan rumah (PR) Pemkab Malang kerap terhadang persoalan anggaran, walau sekali lagi Bupati Malang Sanusi menjanjikan, bahwa anggaran kesehatan menjadi bagian prioritas yang akan dikawalnya. Bahkan, secara lugas Sanusi pun siap untuk mengawal sektor kesehatan berapapun anggaran yang dibutuhkan.

"Kesehatan dan pendidikan adalah prioritas pembangunan. Jadi alokasi anggaran pun di tahun depan lebih difokuskan di sektor itu," ujar politis PKB dalam setiap kunjungan kerjanya.

Sayangnya, persoalan yang masih jadi PR Pemkab Malang adalah terkait pendataan yang kerap berbeda dengan lembaga atau unsur masyarakat peduli HIV/AIDS. Padahal, akurasi data menjadi penting dalam upaya penanganan ODHA Kabupaten Malang. 

Data yang tepat, bisa menjadi dasar Pemkab Malang melakukan tindakan yang disertai kebijakan anggaran. Sehingga, program yang dirancang akan tepat sasaran, serta golnya adalah pencegahan angka penyandang HIV/AIDS menjadi efektif dan efisien.

Persoalan data ini bisa dilihat dari jejaknya selama ini. Menurut Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang, pengidap HIV/AIDS di tahun 2016  hanya 245 orang. Pada tahun 2017 menjadi 287 dan tahun 2018 masih belum terakses secara jumlahnya.

Bila dibandingkan dengan data KPA, maka sangat jauh sekali jumlah penyandang HIV/AIDS yang mayoritas didominasi oleh kalangan wanita pekerja seks komersial (PSK). Sementara sisanya dari  berbagai latar belakang pekerjaan seperti sopir truk dan pekerja dari perantauan atau pekerja migran Indonesia (PMI).

Data wilayah pengidap HIV pun, tentunya menjadi PR bagi Pemkab untuk terus mempublikasikannya ke publik. Sehingga gerakan stop HIV/AIDS bisa melibatkan berbagai unsur masyarakat secara masif. Jangan sampai berbagai data ini hanyalah konsumsi pemerintah serta dibuat tanpa survei kuat di tengah masyarakat.

"Kita takutnya berbagai data pemerintah itu hanya dibuat untuk menyenangkan pimpinannya saja. Sehingga antara yang dilaporkan dengan kenyataan di bawah berbeda jauh sekali. Ini memang menjadi PR besar, bagaimana pemerintah bisa lebih terbuka membuka data riil kepada publik. Pimpinan daerah juga tak alergi dengan kenyataan sesungguhnya bila dapat data itu dari jajarannya," ujar Abdul Munawar, salah satu pemerhati persoalan kesehatan dari Kepanjen, Minggu (1/12/2019) kepada MalangTimes.

Melongok wilayah terbesar penyandang HIV/AIDS tahun 2017 lalu, Dinas Kesehatan memposisikan Kecamatan Singosari di urutan pertama. Ada sebanyak 18 orang penyandang HIV/AIDS. Disusul Kecamatan Kalipare sebanyak 16 orang dan 3 orang di antaranya sudah meninggal dunia.

Wilayah berikutnya adalah  Turen dan Sumbermanjing Wetan masing-masing sebanyak 15 orang. 3 orang  meninggal dunia di Turen. Serta 14 pengidap HIV di Kecamatan Poncokusumo, 3 orang di antaranya meninggal dunia. Sedangkan kecamatan paling sedikit adalah Kecamatan Dau, dan Kecamatan Tajinan. Masing-masing kecamatan ada satu pengidap.

Data itu juga dimungkinkan terus berubah. Pasalnya, penyandang HIV/AIDS kini tak hanya didominasi di wilayah perkotaan saja. Tapi juga telah menerobos berbagai wilayah perdesaan. Seperti yang disampaikan oleh Plt Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang Ratih Maharani.

”Pengidap HIV/AIDS yang dulu kita kontrol dan monitor di tempat prostitusi, kini mulai merambah ke desa-desa. Dari yang sebelumnya tidak teridentifikasi, akhirnya teridentifikasi. Ini yang membuat adanya grafik peningkatan," ujarnya.

Ratih senada dengan Anita, bahwa semakin tinggi angka ODHA yang terpantau akan semakin baik pula pola penanganannya ke depan.

"Kita tetap konsen untuk ini. Pihak kami juga terus bergerak bersama KPA selama ini. Progam Warga Peduli AIDS (WPA) adalah salah satu bukti kita tetap fokus di persoalan ini. Selain program kondom gratis, kita juga punya klinik khusus untuk pasien AIDS di Turen, Ampelgading, dan Sitiarjo (Sumbermanjing Wetan)," tandas Ratih.