Ponpes Mahyajatul Qurro’ di Desa Kunir, Kecamatan Wonodadi, Kabupaten Blitar.(Foto : Aunur Rofiq/BlitarTIMES)
Ponpes Mahyajatul Qurro’ di Desa Kunir, Kecamatan Wonodadi, Kabupaten Blitar.(Foto : Aunur Rofiq/BlitarTIMES)

Pesantren merupakan salah satu unsur penting dalam dinamika historis bangsa Indonesia.  Secara historis, pesantren telah “mendokumentasikan” berbagai peristiwa penting bangsa Indonesia, baik sejarah sosial , budaya, ekonomi, maupun politik. 

Sebagai lembaga pendidikan, peran utama pesantren tentu saja menyelenggarakan pendidikan keislaman kepada para santri. Namun, dari masa ke masa, pesantren tidak hanya berperan dalam soal pendidikan, tetapi juga peran-peran sosial bagi masyarakat di sekitarnya.

Salah satu peran penting pesantren dalam sejarah perjalanan bangsa ini adalah keterlibatannya dalam perjuangan melawan penjajah. Ketika Jepang memobilisasi tentara Peta (Pembela Tanah Air) guna melawan Belanda, para kiai dan santri mendirikan tentara Hizbullah.

Seiring dengan berkembangnya zaman, lembaga pendidikan asli Nusantara ini masih terus eksis dan bisa beradaptasi dengan besarnya pengaruh modernisme.

Di  Blitar salah satunya ialah Pondok Pesantren Mahyajatul  Qurro’ (PPMQ) di Desa Kunir, Kecamatan Wonodadi, Kabupaten Blitar. Secara historis, pesantren ini didirikan oleh Kiai Muhammad Ahyad pada tahun 1938. Pesantren ini berdiri setelah Kiai Ahyad pulang dari pondok.

Dalam sejarahnya, Kiai Ahyad pernah belajar kepada Kiai Abdul Fattah Mangunsari dan mondok di Mojosari, Nganjuk. Kiai Ahyad juga meneruskan menuntut ilmu di Ponpes Al Munawir Krapyak, Jogjakarta.

“Pesantren ini didirikan bukan karena unsur kesengajaan. Cuma karena beliau dulu masih pemuda yang pada zaman itu hafal Alquran, sehingga diikuti oleh orang-orang seusianya dan kawan-kawan lama bapak. Mereka bergabung dengan bapak saya dan akhirnya malah menjadi kumpulan banyak orang dan akhirnya berkembang berdiri pesantren,” ungkap pengasuh Ponpes Mahyajatul Qurro’ KH Masdain Rifai, Selasa (24/3/2020).

Lama belajar di pesantren membuat Muhammad Ahyad muda tumbuh menjadi pemuda yang pintar, cerdas, dan penghafal Alquran. Sepulang dari mondok, banyak pemuda-pemudi Desa Kunir yang datang belajar kepada Kiai Ahyad. Pelajaran penting yang disampaikan oleh Kiai Ahyad salah satunya ialah belajar dan menghafal Alquran. Hal inilah yang kemudian membuat Ponpes Mahyajatul Qurro’ dikenal sebagai pesantren pencetak fafidz dan hafidzah penghafal Alquran.

Pesantren ini mencapai puncak kejayaan menjelang era kemerdekaan. Saat prakemerdekaan, pesantren di Desa Kunir ini menjadi tempat pos berkumpulnya orang-orang dalam menghadapi isu penjajahan.

“Banyak orang yang ketakutan pada waktu itu ngumpulnya ya di pesantren ini. Di Ngunut situ dulu ada pabrik gula. Sedikit ada masalah, getarannya ya dari situ. Orang-orang itu akhirnya mengikuti ajakan para alim ulama untuk kemungkinan bersama-sama menghadapi Belanda. Komando perlawanan, komando perjuangan dulu ya dari pesantren ini,” paparnya.

Dijelaskan Kiai Masdain, pada masa prakemerdekaan, pesantren ini merupakan tempat untuk menata diri dalam perjuangan melawan penjajah. ”Santri pada masa itu menata diri salah satunya dengan ilmu kanuragan. Seluruh pesantren pada masa itu terpanggil untuk resolusi jihad. Tirakat santri pada masa itu benar-benar dibangun dan disiapkan. Semangat jihad santri pada masa itu sungguh luar biasa,” jelentreh Kiai Masdain.

Setelah Indonesia merdeka, pondok ini terus menunjukkan perkembangan. Sebagai pesantren salaf penghafal Alquran, banyak lahir para hafidz dan hafidzah dari pesantren yang terkenal dengan nama Pondok Kunir ini. 

Menurut Kiai Masdain, perkembangan pondok juga sedikit banyak dipengaruhi perkembangan sosial politik Indonesia di masa itu. “Pada tahun 1948, orang nyantri di pondok ini ramai sekali. Terutama ketika gegeran PKI Madiun. Banyak sekali orang mau masuk Islam. Pada masa itu, pesantren ini menjadi tempat berkumpulnya orang-orang mualaf. Lebih panas lagi menjelang tahun 1965, peristiwa G30S/PKI, waduh udah ramai banget. Ketika itu, banyak yang khawatir orang tak disebut sebagai orang Islam. Banyak orang yang belajar muslim karena ketakutan di zaman itu. Dari situlah pondok ini menjadi ramai. Orang-orang semakin mantap berdiam di pondok. Cuma pesantrennya belum berwajah begini. Masih gubug reot,” terang ulama yang kini menjabat ketua PCNU Kabupaten Blitar itu.

Pernah menjadi tempat pelarian orang-orang pada masa silam karena unsur politik, di pondok ini pernah ditemukan bata-bata tertata rapi di lorong bawah. Misalnya kamar kecil di lorong tanah. 

Menurut Kiai Dain, lubang bawah tanah itu dulunya digunakan untuk tempat persembunyian para santri yang berjuang melawan Belanda. “Mereka, para santri, berbulan-bulan berada di lubang itu setelah mematahkan jembatan menuju Ngunut dengan meriam. Jembatan itu dirobohkan untuk mematahkan perjalanan Belanda dari Ngunut (Tulungagung) menuju ke utara sungai (wilayah Kecamatan Wonodadi, Blitar). Saya saat membangun pondok ini masih menemukan batu-batu tua. Saya tahu ini peninggalan pendahulu kami. Tapi apa boleh buat tetap saya buat fondasi untuk meneruskan perjuangan beliau,” jelasnya.

Kiai Muhamad Ahyad wafat pada tahun 1983 dalam usia 64 tahun. Namun, fondasi yang ditinggalkanya masih terus diteruskan oleh penerusnya. Meski berinovasi dengan mengembangkan pondok pesantren modern, KH Masdain Rifai sebagai penerus pengasuh pondok tetap mempertahankan unsur salaf di pesantren yang didirikan orang tuanya ini. 

“Salaf tetap kami hormati. Pendidikan umumnya kami siapkan mulai SMP dan SMK. Dan santri di sini punya kelebihan menghafal Alquran,” pungkasnya.