Lukman, S.Ag., M.Pd. Dosen Universitas Islam Indonesia
Lukman, S.Ag., M.Pd. Dosen Universitas Islam Indonesia

Keprihatinan Nabi Muhammad Saw. terhadap kondisi sosial-masyarakat: ketidak-adilan, kegelapan fanatisme buta, pelecehan terhadap derajat wanita, perbudakan manusia, dan penyembahan terhadap berhala, membawa beliau mencari jawab dengan melakukan perenungan mendalam di Gua Hira’. 

Jawaban diberikan oleh Sang Pencipta Alam Semesta dengan mengutus malaikat Jibril as.: “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu…” dan seterusnya hingga sempurnalah Al-Qur’an diwahyukan.

Kini, keprihatinan demi keprihatinan melanda umat manusia, akankah muncul dengan segera Ratu Adil atau Imam Mahdi yang sudah diharap-harap sejak ratusan tahun lalu? 

Sungguh manusia memang sering lupa dan salah, apalagi lupa dengan kesalahan-kesalahan dirinya. Karena seringnya lupa ini manusia tidak jarang mengulangi kesalahan-kesalahannya berkali-kali, bahkan mengulangi kesalahan yang sama lebih dari sekali.

 Termasuk berharap kedatangan Ratu Adil dan Imam Mahdi dengan segera adalah kesalahan sebagian manusia yang terjadi berkali-kali.

Mungkin orang-orang yang berharap terlalu tinggi dengan munculnya Ratu Adil atau Imam Mahdi, saat Beliau betul-betul muncul untuk mengajak berjuang, mereka adalah pribadi-pribadi yang ragu atau bahkan lari dari barisan.

Pribadi-pribadi yang menjadi barisan pejuang Imam Mahdi adalah mereka-mereka yang tidak terobsesi dengan kapan Imam Mahdi datang, namun mereka adalah orang-orang yang secara sungguh-sungguh menjalani apa yang yang akan diperjuangkan Imam Mahdi saat datang nanti, yaitu nilai-nilai Al-Qur’an.

Wahyu Pamungkas

Bagaikan pabrik memproduk sebuah mesin, maka pabrik menyertakan manual book atau buku panduan pemilik/pemakai, tujuannya adalah agar produk tersebut dapat digunakan dengan baik dan terawat dengan baik. Begitu juga manusia, diciptakan oleh Allah Swt. disertai pedoman untuk merawat hidup dan kehidupan ini. Pedoman tersebut adalah Al-Qur’an, dan kitab-kitab sebelumnya bagi manusia di zaman sebelum Nabi Muhammad Saw.

Al-Qur’an adalah wahyu Pamungkas Sang Pencipta (Al-Khalik) yang tersusun dalam sebuah kitab. Al-Qur’an menyebutkan: “Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (QS. 2: 2).

Tidak ada keraguan, jadikanlah pedoman dalam segala lini hidup, tidak hanya dipelajari cara membaca, menghafal, memahami maknanya saja, namun dijadikan pedoman dalam mengarungi kehidupan. Bukan hanya cara sholat, zakat, dan puasa saja, namun bagaimana cara berbisnis dan cara interaksi sesama manusia dan lingkungan.

Seringkali manusia, bahkan kaum muslim sendiri, sering lupa akan kesempurnaan ajaran Islam yang telah kokoh. Mereka hanya percaya kekokohan Islam, dan kemudian ikut berteriak-teriak agar orang lain percaya, namun belum pernah membuktikan sendiri dalam akhlak sehari-hari, sehingga terwujud rahmah atau kasih sayang dalam kehidupan. 

Sebenarnya kekokohan ajaran Islam kalau mewujud pada pribadi maka benarlah sebuah kalimat bijak: “Di mana ada muslim, di situ aura kedamaian terpancar”.

Al-Qur’an dalam Dada Setiap Insan

Dalam sebait syair yang dikenal sebagai syair Gus Dur disebutkan Al-Qur’an itu juga berada dalam dada setiap insan beriman, tak tertulis bisa namun terbaca. Kalau belum mendapati Al-Qur’an dalam dada seperti itu, bisa jadi maqomnya adalah baru meh (hampir) Islam Kaffah.

Kesadaran belum sampainya pada maqom bisa membaca Al-Qur’an yang tersimpan dalam dada ini hendaknya disikapi sebagai pribadi yang masih perlu banyak belajar dan tidak adi gung adi guno, sombong, dan menyalahkan orang lain yang tidak segolongan dengannya. 

Pribadi ini juga hendaknya menyadari kerumitan hidupnya karena belum terpandu nilai-nilai ajaran hakiki Al-Qur’an, yang karenanya sering merasa “maju salah mundur juga salah, diam salah, bicara juga salah”.

Iqra’ Rasulullah Saw. dan Iqra’ Umatnya  

Kebingungan pribadi-pribadi setengah matang, dapat ditingkatkan dengan menyelami kembali proses Rasulullah Saw. menerima wahyu yang pertama kali: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah, Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Q.s Surat Al-Alaq:1-5).

Rasulullah Saw. menerima wahyu pertama kali ini sambil mengigil dan bergetar seluruh jiwa raganya.

Untuk menghikmati Iqra’yang sampai membuat mengigil dan menggetarkan seluruh jiwa, tampaknya perlu menarik proses ke belakang lebih panjang kehidupan Rasulullah Saw.:  

(1) Digelari tetangga dan penduduk kotanya sebagai Al-Amin (yang dapat dipercaya) karena kejujurannya; (2) Memuaskan kabilah-kabilah yang berseteru kareka kebijaksanaannya menyelesaikan masalah; (3) Egonya yang terkendali walau dihormati orang sekelilingnya; (4) Keprihatinan melihat kondisi sosial yang tidak adil/dzalim; (5) menjalin silaturrahim dengan siapapun. 

Dengan kondisi jiwa yang seperti ini Rasulullah Saw. masuk ke dalam Gua Hira’ dan mendapat wahyu Iqra’.

Umatnya, kalau berproses dengan kesungguhan hati segenap jiwa dan raga, kemungkinan juga akan mendapat Iqra’, namun Iqra’ yang mengigilkan badan, menggetarkan jiwa, membuat lapang dada, dan menyinari kegelapan-kegelapan atau kejahiliyahan diri. 

Bukan hanya bacaan Iqra’. Insya Allah, seterusnya akan muncul sosok yang meneladani Rasulullah Saw. ikut mengantarkan rahmah dalam kehidupan.

Allohu A’lam.

Penulis adalah Dosen Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) 
Jurusan Studi Islam, Fakultas Ilmu Agama Islam, Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta.